Thursday, October 22, 2009

Keanehan Saat Pelantikan SBY

Ketika menyebut daftar tamu kehormatan, misalnya. Kiemas tidak menyebut mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Presiden B.J. Habibie. Dia melewatkan dua tamu kehormatan yang hadir dalam ruang sidang paripurna MPR itu.

Mohon maaf, terlewat. Yang terhormat Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Presiden Ketiga Indonesia B.J. Habibie, katanya dengan agak terbata-bata sambil membolak-balik teks yang ada di depannya. SBY tetap tenang dan belum bereaksi. Habibie yang duduk di balkon atas hanya tersenyum simpul seperti memaafkan kesalahan kecil Kiemas itu. Begitu pula JK.

Tapi, kesalahan itu hanya pembukaan. Setelah lupa menyebut dua tokoh itu, Kiemas bolak-balik membuat kesalahan. Ketika menyebut pemimpin dan utusan negara sahabat, dengan gagap dan patah-patah Kiemas menyebut mereka satu per satu. Saat menyebut perwakilan pemerintah Srilanka, huruf W dia baca, W double. Perwakilan pemerintah Srilanka pun berdiri dengan wajah merengut.

Sejumlah pemimpin negara sahabat memang hadir. Antara lain Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak, Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos Horta, dan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah.

Nah, di sinilah Presiden SBY mulai merasa tidak nyaman. Duduk di kursi sisi selatan dari Kiemas, alis berkernyit. Pandangannya tak bisa menatap lurus ke hadirin karena bolak-balik menoleh kepada Kiemas yang tak juga tepat membaca nama-nama perwakilan negara sahabat itu.

Pelafalan Kiemas pada gelar dan kata sapaan pun tak terlalu bagus. Kiemas menyebut mister dengan gaya Jawa menjadi mester dan doktor menjadi dokter. Saat memanggil SBY untuk menandatangani berita acara pelantikan, ayah Puan Maharani itu keseleo lidah. Susilo dokter Bambang Yudhoyono, katanya. SBY kembali menoleh kepada Kiemas.

Kesalahan berkali-kali itu mulai dihapal oleh sejumlah peserta sidang. Sejumlah menteri seperti Mendagri Mardiyanto, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dan beberapa menteri lainnya terlihat saling bisik kemudian tertawa. Mereka seperti menunggu Kiemas untuk berbuat salah lagi. Dan memang, Kiemas melakukannya lagi!

Ketika membaca sambutan setelah penandatanganan berita acara pelantikan, Kiemas menyampaikan sambutannya. Dia menyebutkan presiden dan wakil presiden Indonesia selanjutnya adalah SBY dan Boediono.

Namun, kembali saat menyebut SBY, dia bilang, Susilo dokter Bambang Yudhoyono. Tapi, kalimat belum selesai. Kiemas terhenti selama beberapa detik sambil membolak-balik kertas kemudian berkata, Selama lima tahun.. Terhenti lama, dia kemudian menyebut, Dan Profesor Boediono sebagai wakil presiden...selama lima tahun.

Pertunjukan berikutnya lebih fatal lagi. Dalam pidato penutup sidang tersebut, tiba-tiba saja Kiemas berkata seperti hendak mengakhiri sidang, Demikian...,(diam). Rupanya halaman teks yang dibalik politisi bertubuh subur itu terlalu banyak. Satu halaman terselip.

Ee.., kepada bapak Muhammad Jusuf Kalla, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas segala yang telah dilakukan selama ini, tuturnya. Kali ini, suara gemuruh tawa yang tertahan mulai terdengar di dalam gedung.

Dikonfirmasi seusai sidang paripurna, Kiemas menjelaskan bahwa dirinya tidak terbiasa menyebut nama lengkap Presiden SBY beserta titelnya. Menyebut nama asli agak-agak susah. Biasanya kan Pak SBY, katanya.

Suami Megawati itu merasa kesalahan yang dilakukannya sangat manusiawi. Termasuk saat kebablasan membuka halaman, sehingga nama penting, seperti Jusuf Kalla sampai terlewatkan.

Manusiawi lah. Nomor halamannya kecil di bawah, kata Kiemas yang mengaku sebelumnya sudah sempat latihan membaca teks pidato tersebut.

Sekretaris FPDIP di MPR Ganjar Pranowo mengatakan mereka sebenarnya sudah meminta Sekjen MPR agar tidak terlalu banyak pidato panjang. Sebab, sidang paripurna tersebut hanya seremoni pelantikan saja. Karena orang baru yang juga baru sekali dua kali memimpin jangan-jangan masih grogi, candanya.

Ganjar mengakui, ke depan, memang tidak boleh sampai terjadi lagi banyak kesalahan seperti itu. Tapi, sejauh ini, dia meyakini, peristiwa salah baca tersebut tidak sampai mengurangi kewibawaan MPR.

Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) Anas Urbaningrum menyindir penampilan buruk Taufik Kiemas itu. Dia mengatakan, Kiemas mungkin ingin memberi kesan khusus dalam sidang paripurna pelantikan SBY -Boediono.
Suasana lebih cair, sedikit lebih santai. Ada kesempatan untuk senyum dan ketawa kecil. Jadi, menyegarkan, kata Anas.

Komentar yang lebih pedas datang dari Wakil Ketua DPD Laode Ida. Menurut dia, kekeliruan yang dilakukan secara berulang oleh Taufik Kiemas itu telah membuat kewibawaan MPR menjadi berkurang. Kesakralan pelantikan presiden dan wapres semakin rendah, ujar senator dari Sulawesi Tenggara itu.

Sementara itu, kesalahan yang terjadi dalam sidang paripurna pelantikan presiden menunjukkan kurangnya persiapan dari MPR. Aktivis Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma) Said Salahuddin menyatakan, sidang paripurna tersebu disaksikan dunia internasional. Hal itu bisa memberikan catatan negatif kepada yang melihatnya.

Dunia akan menganggap Indonesia tidak cakap dalam mengelola sebuah sidang, kata Said. Seharusnya MPR bisa melakukan persiapan matang. Sebab, sejumlah kepala negara juga ikut hadir di pelantikan itu.
Said mencatat, kesalahan-kesalahan kecil yang cukup mengganggu adalah penyampaian pidato Ketua MPR, Taufiq Kiemas. Politisi PDIP itu pada DPR periode sebelumnya dikenal sebagai anggota DPR yang kerap membolos.

Ketua MPR salah mengucapkan nama Susilo Bambang Yudhoyono dan terlihat kurang tepat menyebut nama kepala negara lain, ujarnya.

Ironisnya, kata Said, kesalahan kecil itu malah ditanggapi dengan riuh rendah suara anggota MPR lainnya. Terdengar dari siaran TV bahwa para anggota MPR terkesan berbicara sendiri, mengomentari kesalahan Taufiq.

Itu menunjukkan lemahnya kita saat mengelola sebuah sidang, kata Said. Seharusnya, kata dia, sidang harus dipersiapkan dengan baik, termasuk pemahaman tata tertib yang harus dipatuhi peserta sidang.

Mengenai kesalahan penyebutan nama oleh Taufiq, Said menilai, hal itu menunjukkan bahwa politikus tua harus diganti secara bertahap oleh politikus muda. Kesalahan itu masih terjadi, padahal Ketua MPR memegang teks, bagaimana jika berbicara tanpa teks di sebuah forum internasional, tandasnya.

Mega Tak Hadir

Terjawab sudah teka-teki soal hadir ataupun tidaknya Megawati Soekarnoputri dalam pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono pada rapat paripurna MPR, Selasa (20/10). Meski Ketua MPRRI Taufiq Kiemas yang juga suami Megawati sudah mengudang mantan presiden RI itu hadir, namun putri proklamator itu tetap memilih untuk tidak hadir.

Padahal, para mantan Presiden dan wakil Presiden diundang semuanya. Mantan presiden RI BJ Habibie yang kini lebih banyak bermukim di Jerman, hadir di acara pelantikan dengan istrinya. Demikian pula dengan mantan wapres Try Sutrisno yang hadir dengan istrinya.

Sedangkan Gus Dur tidak hadir lantaran harus menjalani perwwatan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangungkusomo. Tidak ada kepastian soal penyebab ketidakhadiran Megawati. Dua orang terdekat Megawati memberikan keterangan yang berbeda. Suami Megawati, Taufiq Kiemas, mengatakan bahwa istrinya sedang berada di Bogor saat pelantikan berlangsung. “Ibu saat ini sedang di Bogor,” ujar Taufiq kepada wartawan di gedung MPR RI, kemarin.

Taufiq sepertinya juga agak kurang berkenan dengan pertanyaan soal ketidakhadiran Megawati.

Sedangkan Puan Maharani, putri pasangan Taufiq Kiemas dan Megawati, mengungkapkan bahwa ibunya terpaksa tidak bisa hadir lantaran kurang sehat. Jika ayahnya menyebut Megawati tengah berada di Bogor, Puan justru mengatakan bahwa ibunya ada di Jakarta. “Ibu Mega masih kurang sehat sehingga tidak bisa menghadiri pelantikan presiden dan wakil presiden,” ujar Puan.

Namun ketidakhadiran Megawati mendapat pembelaan dari Sekjen DPP PDIP, Pramono Anung. Menurutnya, tidak ada aturan yang mengharuskan kehadiran Megawati pada pelantikan SBY-Boediono.

Menurut wakil ketua DPR itu, kebiasaan untuk menghadirkan mantan presiden dan wakil presiden pada pelantikan pasangan presiden terpilih hanya merupakan seremonial saja. “Tidak ada kewajiban untuk hadir. Tapi, Ibu Mega sudah menyampaikan pesan kepada presiden terpilih lewat saya dan Pak Taufiq Kiemas,” terangnya tanpa menyebut isi pesannya.

Sementara itu ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menegaskan bahwa pihaknya sebenarnya berharap agar Megawati bisa hadir. “Dari awal memang kami sangat berharap agar Ibu Mega hadir dalam pelantikan presiden dan wakil presiden SBY-Boediono. Kenyataannya Ibu Mega tidak hadir,” ujar Anas.

Namun mantan anggota KPU yang kini menjadi anggota DPR dari Partai Demokrat itu mengatakan, ketidakhadiran Megawati bukanlah masalah besar. Bahkan Anas memaklumi ketidakhadiran itu.

“Kami juga harus memaklumi bahwa Presiden SBY dan Ibu Mega mempunyai kesibukan tersendiri. Kami yakin, kenyataan ini tidak akan mengganggu hubungan baik Demokrat dengan PDIP, tandasnya.

Dijelaskan Anas pula, hubungan PD dan PDIP yang akhir-akhir ini mengalami perkembangan positif tidak akan terganggu. Terlebih lagi, hubungan Fraksi PDIP dan Demokrat di parlemen juga baik-baik saja.
READ MORE - Keanehan Saat Pelantikan SBY

1 Rupiah setara dengan 1 US Dollar



Masih ingat PR Pak Tedi tentang PR 1 US 1 Rupiah??? Apakah yang terjadi????

Jika harga 1 rupiah sama nilainya dengan 1 US dollar. Kira-kira, apa saja yang terjadi di Indonesia. Berikut sedikit gambaran jika itu terjadi (Dengan asumsi kurs negara tetangga dan lainnya tetap).

1. Masyarakat bisa gonta-ganti mobil semau udel. Beli Honda city dengan Rp 30.000,- perak, Toyota Landcruiser Rp 70.000,- perak... dan lainnya. Sementara sepeda motor bakal ga laku lagi.


2. Akan ada transfer pemain sepak bola besar-besaran di Indonesia. Bukan tidak mungkin Persija Jakarta akan membeli David Beckham atau Ronaldinho. Sementara PSBL Bandarlampung akan mengontrak Zinedine Zidane dan Ronaldo. Dan Persebaya bakal diarsitekin oleh Mourinho.

3. Pemerintah tidak perlu lagi ngutang di IMF. Bisa jadi RI malah kasih bantuan ke negara-negara miskin.

4. Pengamen, pengemis dan tukang parkir bisa langsung keluar negeri sehabis kerja seharian. Mereka juga bisa langsung take off dengan pesawat pribadi dan chek in di hotel-hotel mewah.

5. Kriminalitas menjadi lebih elit. Tidak ada lagi copet dengan dua jari, apalagi Kapak Merah...Gengsi!! Liat aja di Amerika, mana ada penjahat bawa-bawa kapak..

6. Nggak ada lagi pasar loak. Masyarakat jadi malu untuk jual beli barang bekas karena tingkat kehidupan yang lebih baik. (dengan asumsi UMK terendah masyarakat perbulan Rp450.000)

7. Tambal Ban pinggiran jalan menghilang.

8. Kebijakan pengadaan rumah sangat sangat sederhana (RSSS) oleh pemerintah dihapuskan, ganti Real Estate sangat-sangat sederhana (RESSS)

9. Semua menjadi serba komputer termasuk sarana WC dan makan.

10. Masyarakat tidak pusing dengan isyu Formalin. Dengan strata hidup lebih baik, orang lebih memilih makan pizza, burger atau keju dari pada harus ketakutan makan ikan asin, mie ayam atau bakso.

11. Tidak ada lagi TKI ato TKW yang merantau ke luar negeri, malah2 pekerja dari Malaysia, Thailand, Philipina, dan Singapura yang membanjiri Indonesia berhubung gajinya bakal gede, wong serupiah sama dengan sedolar

12. Pertamina tidak akan menjual minyaknya ke luar negeri, rugi malah menjual ke negara yang kursnya di bawah rupiah, so... tidak ada lagi kelangkaan BBM

13. Listrik juga ga bakal byar pet, soalnya BBMnya selalu tersedia karena ga ada yg bawa kabur ke luar negeri

14. Bakal banyak orang kita yang sering weekend ke Singapura, atao Australia toh biayanya hanya berapa rupiah sudah bisa beli banyak barang
READ MORE - 1 Rupiah setara dengan 1 US Dollar

Tuesday, October 20, 2009

UPAYA MANUSIA DALAM PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ALAM HAYATI

Semakin meningkat laju pertumbuhan penduduk, semakin meningkat pula kebutuhan akan bahan pangan sebagai kebutuhan pokok. Dengan alasan tersebut manusia selalu berupaya dan berusaha untuk terus melakukan segala sesuatu guna tercapainya kebutuhan. Langkah-langkah yang ditempuh untuk itu adalah meningkatkan cara mengelola bidang-bidang kerja seperti pertanian, peternakan dan perikanan. Usaha peningkatan hasil pertanian dapat ditempuh dengan berbagai cara, antara lain dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Di berbagai negara usaha ekstensifikasi (perluasan) lahan sudah tidak memungkinkan, karena lahan sudah habis digunakan untuk keperluan lain. Oleh karena itu, maka perhatian mereka tertuju pada usaha intensifikasi pertanian. Kombinasi ekstensifikasi dengan intensifikasi (peningkatan cara bertani) adalah cara yang paling baik. Intensifikasi pada prinsipnya adalah usaha meningkatkan hasil proses fotosintesis oleh tumbuhan. Potensi ini belum begitu tergali, dan dari hasil penelitian fisiologi dikethui bahwa peluang bagi pemuliaan tanaman sangat dimungkinkan dan diperlukan. Pemuliaan tanaman dapat diartikan sebagai suatu cara yang sistematik dalam merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi manusia. Sekarang ini pemuliaan organisme tidak terbatas pada tanaman namun juga pada hewan. Untuk pemuliaan tanaman dan hewan, tindakan seleksi merupakan hal yang terpenting, seperti :

a. seleksi plasma nutfah yang dipergunakan sebagai tetua

b. seleksi metode pemuliaan yang tepat

c. seleksi genotip yang akan diuji

d. seleksi cara pengujian yang akan dipakai

e. seleksi varietas yang akan dilepas



A. Revolusi Hijau

Revolusi hijau atau green revolution adalah pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi bahan pangan, terutama biji-bijian (serelia) seperti gandum, jagung, padi, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran. Revolusi hijau merupakan istilah yang digunakan untuk untuk meningkatkan hasil fitosintesis yang mempunyai nilai ekonomi dan keberhasilan dalam memperoleh jenis-jenis unggul. Usaha yang terbaik dan tercepat untuk meningkatkan pesediaan bahan makanan adalah neningkatkan hasil lahan pertanian. Hal ini dapat di capai dengan memperkenalkan tanaman-tanaman yang seluruhnya baru di suatu daerah atau dengan memeperbaiki hasil-hasil melalui penggunaan pupuk, peningkataan irigasi, perlindungan yang baik terhadap hama pernyakit tanaman atau dengan pengenalan varietas tanaman dengan jenis unggul, yang kesemuanya itu disebut panca usaha tani. Ternyata dengan panca usaha tani tersebut dapat menimbulkan hasil yang cukup tingi atas lahan yang relatif luas. Sejarah revolusi hijau :

- Revolusi hijau pertama kali disponsori oleh Ford dan Rockefeller Foundation untuk mencari varietas tanaman pengahsil biji-bijian yang berproduksi tinggi

- Revolusi hijau di mulai di Mexico pada tahun 1950, dan pada tanuh 1960-an berhasil menghsilkan varietas gandum unggul

- DI Filipina, International Rice Research Institute (IRRI) berhasil mengembangkan varietas padi unggul

- Perhatian dunis selanjutnya tidak hanya serealia (bahan makanan pokok), tetapi juga peningkatan produksi kacang-kacangan dan sayur-sayuran.

- Tahun 1970, CGIAR (Consultative Group for International Agriculture Research) membantu berbagai pusat penelitian pertanian Internasional. Hal ini menunjukan perhatian dunia yang besar terhadap usaha peningkatan produksi pertanian.

Revolusi hijau dalam perkembangannya terbagi dalam 4 tahap, yaitu ;

- Revolusi tahap pertama, terjadi antara tahun 1500 – 1800 ketika kebanyakan hasil petanian (gandum, padi, jagung dan kentang)disebar ke seluruh dunia

- Revolusi hijau tahap kedua, terjadi di Eropa dan Amerka Utara antar tahun 1850 – 1950 dan terutama di dasarkan penerapan hukum ilmiah terhadap produksi hasil petanian dan hewan melalui penggunaan pupuk, irigasi dan pemberantasan hama dn penyakit secara luas dan terkendali

- Revolusai tahap ketiga, terjadi di negara-negara maju sejak perang dunia II dan terutama melalui seleksi dan persilangan genetika atas varietas tenaman dan hewan unggul dan lebih resisten terhadap penyakit dan serangga

- Revolusi hijau tahap keempat, telah tersebar luas pada tahun-tahun ini. Tahap ini bukan hal yang baru, melainkan kombinasi dari revolusi hijau tahap kedua dan tahap ketiga, dan terutama ditujukan untuk negara-negara berkembang. Tahun 1967 arietas padi dan gandum jenis unggul dikembangkan di daerah-daearah tropis dan sub tropis, seperti India, Turki, Pakistan, Indonesia.

Sebagaian orang berpendapat bahwa istilah yang lebih tepat atas usaha diatas disebut dengan istilah “evolusi hijau” atau green evolution, karena usaha tersebut dilakukan selama bertahun-tahun. Program revolusi hijau diusahakan melalui pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas baru yang melampaui daerah adaptasi dari varietas yang telah ada. Varietas unggul yang baru akan berhasil bila mempunyia adaptasi geografis yang luas, responsif pengairan dan pemupukan, resisten terhadap hama dan penyakit. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa sebenarnya produk tanaman yang dipanen manusia adalah hasil fotosintesis. Pada serealia, produk yang dimanfaatkan adalah biji. Biji mengandung karbohidrat yang berasal dari proses fotosintesis. Dengan demikian untuk meningkatkan karbohidrat perlu ditingkatkan aktivitas fotosintesis. Aktivitas fotosintesis sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari.

Oleh karena itu,daun sebagai pelaksana fotosintesis harus memiliki persyaratan. Persyaratan-persyaratan yang harus dimiliki daun untuk melakukan fotosintesis, adalah :

- mampu mengabsorpsi sinar matahari yang berguna untuk fotosintesis secara optimal

- kedudukan daun (filotaksis) tidak saling menaungi serta mempunyai posisi yang sesuai dengan arah datangnya sinar

- penguapan yang sering terjadi pada daun haruis seimbang dengan yang tersedia

1. Varietas unggul

Revolusi hijau diusahakan melalui pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas unggul dan mampu beradaptasi. Kemampuan adaptasi yang diharapkan adalah :

- adaptasi geografis yang luas, artinya dapat tumbuh atau mempunyai penyebaran yang cukup luas

- responsif terhadap pengairan dan pemupukan

- resistensi terhadap hama dan penyakit

2. Intensifikasi pertanian

Intensifikasi pertanian merupakan bentuk mekanisme revolusi hijau di Indonesia yang biasa di kenal dengan sebutan panca usaha tani, yaitu 5 (lima) usaha untuk meningkatkan hasil pertanian yang meliputi :

- pengolahan tanah yang baik

- penggunaan bibit unggul

- pemupukan dengan tepat

- pengaturan irigasi

- pemberantasan hama dengan pestisida

3. Kendala dalam revolusi hijau

Dalam usaha meningkatkan hasil tanaman seperti yang diharapkan dalam revolusi hijau ternyata harus kerja keras dan terdapat kendala-kendala yang harus dihadapi, yaitu :

- Varietas unggul umumnya hanya akan menghasilkan panen yang baik bila diberi pupuk dan pengairan yang tepat

- Adanya lahan-lahan yang potensial untuk pertanian namun letajk geografisnya kurang menguntungkan, seperti jauh dari penduduk atau tidak/ belum mempunyai sistem irigasi sehingga lahan tersebut sulit untuk dimanfaatkan

- Banyak lahan yang secara geografis menguntungkan namum keadaan tanahnya kritis dan kurang subur

- Adanya serangga berbagai hama, misal serangga atau hewan yang dilindungi

Tujuan akhir dari pemuliaan tanaman adalah untuk mendapatkan hasil pertanian lebih dari hasil yang telah dicapai varietas yang telah ada. Namun peningkatan hasil saja masih kurang dan harus diikuti dengan beberapa tindakan penunjang, antara lain :

- peningkatan hasil pertanian tidak boleh menurun kualitasnya

- perlu adanya diversifikasi atau penganekaragaman menu

- untuk jenis tanaman leguminoseae, perlu adanya daya hasil yang lebih menarik

- peningkatan protein melalui peningkatan komposisi hasil

- pengingkatan hasil yang mengandung energi lebih tinggi

- ketahanan penyakit dalam penyimpanan

- hasil tidak boleh mengandung racun

4. Dampak revolusi hijau

Revolusi hijau selain menguntungkan dalam pemenuhan kebutuhan pangan dapat teratasi, tetapi ternyata revolusi hijau juga menimbulkan masalah bagi lingkungan dan sosial, antara lain berupa :

- Terbentuknya penyerdehanaan komunitas, karena umumnya petani hanya menanam serealia atau bahan pokok dan tidak menanam leguminosea (kacang-kacangan)

- Penggunaan pupuk buatan dan pestisida akan menyebabkan hilangnya kemampuan mikroorganisme tanah yang membantu menyuburkan tanah. Akibatnya dalam waktu 20 – 30 tahun mendatang akan terjadi titik balik penurunan produtivitas tanaman.

- Rusaknya keseimbangan lingkungan akibat penggunaan pupuk buatan dan tercemarnya lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebiha dapat menyebabkan kepunahan berbagai organisme

- Pembuatan lahan pertanian (sawah, ladang) baru dari hutan-hutan akan menurunkan keanekaragaman hayati dan keaneragaman genetika. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya salah satu species tumbuhan atau hewan yang mungkin mengandung gen yang sangat dibutuhkan

- Adanya mekanisasi pertanian menyebabkan petani buruh kehilangan pekerjaan, yang akibatnya terjadinya urbanisasi yang menyebabkan masalah di perkotaan besar

- berkurangnya keanekaragaman genetik jenis tanaman tertentu akan sangat membahayakan , sebab bisa menurunkan plasma nutfah atau sumber gen.



B. Revolusi Biru

Keberhasilan manisia dalam usaha peningkatan hasil serealia ternyata cukup mengatasi kekurngan pangan sebagaian hasil serealia ternyata belum cukup mengatasi kekurangan pangan sebagaian besar penduduk dunia. Hal ini disebabkan makin sempitnya tanah pertanian yang subur, sebab terdesak oleh pemanfaatan tanah untuk kepentingan lainnya. Seperti talah kita ketahui bahwa 70% luas permukaan bumi ini berupa lautan, maka tidak ada salahnya kalau manusia mulai melirik dan mengusahan dalam mengatasi kekurangan pangan di ararhkan ke lautan. Untuk memanfatkan sumber daya hayati yang ada di laut, maka digiatkan revolusi biru, yaitu pengembangan teknologi pemanfaatan sumber daya hayati laut, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan.

Sumber daya laut terdiri atas sumber daya hayati dan sumber daya non hayati .

1. Sumber daya hayati laut

a. Tumbuhan

Jenis alga atau rumput laut merupakan tubuhan laut yang menghasilkan agar-agar, merupakan sumber penghasil karbonhidrat. Berbagai rumput laut juga mengandung asam amino dan mineral. Selain itu rumput laut dapat untuk antibiotika, kosmetik, bahan tekstil dan plastik.

Alga hijau bersel satu seperti Chlorella mulai dibudidayakan sebagai sumber protein yang mengandung 50% protein dari berat kering.

b. Hewan

Ikan, udang dan cumi-cumi merupakan sumber protein heani yang sangat besar di hasilkan dari laut.

c. Kerang laut

Kerang hujau, kerang mutiara dan kepiting merupakan sumber daya hayati laut yang cukup potensi untuk dikembangkan

Dalam meningkatkan sumber daya hayati laut, upaya yang dilakukan tidak hanya penagkapan ikan dan penambilan biota laut lainnya, tetapi juga perlu diikuti dengan pembudidayaan berbagai jenis hewan dan tumbuhan laut, seperti alaga atau rumpu tlaut, kerang mutiara dan lain-lain. Pembudidayaan rumput laut telah dikembangkan diberbagai tempat, dan hasilnya ternyata sangat memuaskan. Pemerintah telah mengusahakan berbagai upaya dalam meningkatkan pemanfaatan pengembangan sumber daya hayati laut, yaitu :

- Melaksanakan pola perusahaan inti rakyat (PIR) untuk perikanan laut, misal ikam tuna dan ika cakalang

- Mengembangkan sistem rumpon, yaitu suatu alat yang dipasang didaerah laut sebagai tempat berkumpulnya ikan.

- Melakukan zona ekonomi eksklusif (ZEE), dengan ZEE ini maka wilayah Indonesia akan bertambah luas. Hal ini akan memungkinkan pula meningkatnya hasil sumber daya hayati laut.

- Mengadakan penelitian tentang potansis sumber daya laut, sehingga dapat diketahui wilayah-wilayah laut yang mana yang produktif dan wilayah mana yang kurang produktif.

2. Sumber daya non hayati laut

a. Air laut

Berbagai negara laut dapat diolah dengan teknologi osmosis balik, yaitu menghilangkan garam dapurnya sehingga dapat sebagai sumber air minum. Air laut banyak mengandung unsur kimia, seperti NaCl yang penting untuk pangan, Mg yang penting untuk industri pesawat terbang, roket dan peralatan laut udara.

b. Nodul di dasar laut

Nodul yaitu endapan logam, seperti Mn, Ni, Co, Cu, Au, Zn dan Fe yang vital untuk pengembangan industri

c. Energi

Energi panas yang berasal dari panas matahari (OTEC atau Ocean Thermal Energy Converasion) penting untuk pembangkit tenaga listrik

d. Arus dan gelombang laut

Arus laut dan gelombang laut di Jepang digunakan untuk pembangkit listrik dengan kincir listrio yang digerakan.



3. Kendala revolusi biru

Dalam pengembagan revolusi biru terdapat kendala-kendala yang harus dihadapi, antara lain :

- Adanya limbah minyak, industri danrumha tangga yang menyebabkan cahaya matahari yang menembus ke laut semakin berkurang. Limbah tersebut juga mengandung zat yang bersifat racun yang dapat membunuh biota laut

- Pengangkapan ikan yang terus menerus dengan menggunakan kapal-kapal pukat harimau yang modern dalam penangkapan ikan akan mengakibatkan menurunnya populasi ikan secara dratis. Hal ini disebabkan ikan-ikan yang belum dewasa akan ikut terjaring pula.

- Penggunaan bahan bergahaya, seprti bahan peledak atau portas (senyawa kimia beracun) menyebabkan biota laut mati. Pengambilan terumbu karang juga menyebabkan makin menurunnya produksi ikan, karena terumbu karang merupakan habitat berbagai jenis ikan yang merupakan sumber makanan bagi manusia.

4. Tindakan untuk mengatasi revolusi biru

- Mencegah dan mengatasi pencemaran laut

- Menghindari penangkapan ikan hanya terus menerus, misal tidak boleh menangkap ikan pada waktu musim kawin dan boleh menangkap ikan hanya pada musim-musim tertentu saat populasi sngat tinggi

- Tidak menggunakan alat bantu atau bahan yang berbahaya

- Menggalakan peternakan ikan, misal dengan membuat pertambakan, jala apung, membudidayakan kerang dan kepiting.



C. Revolusi Putih

Revolusi putih adalah usaha pemerintah untuk memperoleh makanan danrekayasa genetika dengan menggunakan mikroba tertentu. Misalnya pembuatanprotein sel tunggal yang berasal dari bactreri, ragi dan algae yang dibiakan dengan substrat tertentu, seperti :

- BBM (bahan bakar minyak)

- Limbah

- Berbagai industri makanan, minuman

- Obat-obatan

Pembahasan lebih lanjut tentang revolusi putih akan diurai pada bab XII.



D. Pemuliaan Tanaman dan Hewan

Pemuliaan adalah suatu cara yang sistematik merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi manusia. Dalam proses ini diperlukan bahan baku berupa keanekaragaman genetik (plasma nutfah) yang tesedia di alam. Untuk pemuliaan tanaman dan hewan, peranan penelitian untuk mendapatkan bibit unggul adalah sangat penting. Untuk itu diperlukan :

- adanya keragaman genetik

- sistem-sistem logis dalam pemindahan dan fiksasi gen

- konsepsi dan tujuan atau sasaran yang jelas

- mekanisme penyebarluasan hasilnya kepada masyarakat

Yang dimaksud dengan bibit unggul adalah hewan atau tanaman yang mempunyai sifat unggul, seperti :

- masa pertumbuhan pendek dan berumur pendek

- cepat menghasilkan buah

- tahan terhadap hama dan penyakit

- produksi tinggi atau banyak

- enak rasanya

Penggunaan bibit unggul untuk meningkatkan hasil pertanian dan peternakan merupakan cara yang terbaik, karena cara ini tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, tidak akan mengganggu keseimbangan lingkungan dan juga tidak menimbulkan pencemaran. Cara-cara pemuliaan tanaman dan hewan :

1. Seleksi

Seleksi adalah pemilihan sifat suatu makhluk hidup sesuai dengan lingkungannya. Sifat yang diinginkan manusia berbeda-beda susuai dengan tujuannya. Untuk tujuan bahan pangan, maka sifat yang diharapkan adalah tanaman yang produksinya tinggi, tahan hama dan enak rasanya. Untuk tanaman hias, dipilih yang berbentuk indah atau berbunga dan berdaun dengan warna menarik. Untuk hewan yang diharapkan menghasilkan daging, susu, telur yang banyak. Selain itu juga diharapkan hewan yang kuat seperti kuda , sapi, kerbau dan sebagainya. Untuk buah yang diharapkan buah yang besar dan manis rasanya. Seleksi telah lama dilakukan manusia sebelum muncul ilmu genetika, bahkan hampir seluruh hewan dan tumbuhan yang dibudidayakan manusia saat ini sebenarnya merupakan hasil dari seleksi. Bila seleksi dilakukan secara terus menerus terhadap berbagai makhluk hidup, maka akibtnya hanya varietas yang dipilih manusia saja yang akan mendapat kesempatan untuk hidup lebih besar, sedang varietas yang tidak diingini manusia secara lambat laut akan punah. Dampak positif adanya seleksi adalah dihasilkannya sifat-sifat unggul yang diperlukan manusia. Dampak negatif adanya seleksi adalah dihasilkannya sifat yang tidak diingkan akan hilang sehingga mengurangi keanekaragaman genetik atau plasma nutfah.

2. Hibridisasi

Hibridisasi atau pembastaran adalah mengawinkan (menyilangkan) antara dua individu yang berbeda sifatnya tetapi masih termasuk ke dalam satu species, sehingga diharapkan akan muncul sifat unggul yang homozogot. Dalam rangka meningkatkan hasil tanaman padi maka kita harus berusaha mendapatkan varietas yang mempunyai sifat berproduksi tinggi dan tahan terhadap hama. Artinya kedua yang kita inginkan tersebut terdapat pada dua individu yang berbeda . maka untuk mendapatkan individu yang mengandung kedua sifat yang kita inginkan tersebut, kita harus mengadakan hibridisasi. Untuk mendapatkan varietas yang benar-benar galur murni, turunan kedua tadi harus dipilih lagi, dan dilanjutkan penyilangan lagi. Dengan mengadakan penyilangan yang berulang-ulang diharapkan akan dihasilkan varietas yang memiliki gabungan yang bergalur murni.

Berbagai cara untuk memperbaiki keturunan pada ternak, yang dilakukan dengan penyilangan,

di antaranya :

- Silang murni (purebreeding), yaitu mengawinkan ternak jantan dan betina yang sama bangsanya, misal : perkawinan antara sapi madura dengan sapi madura.

- Silang dalam (inbreeding), yaitu mengawinkan antara ternak jantan dan ternak betina yang masih ada hubungan kekeluargaan. Bila hubungan kekeluargaaan ini sangat dekat disebut closebreeding)

- Silang kuar (crossbreeding), yaitu mengawinkan silang antara dua bangsa yang berdarah murni, yang bertujuan untuk mendapatkan ras baru yang memiliki sifat-sifat yang menonjol, misal : penyilangan antara sapi Fries Holland dengan sapi madura.

- Upgrading, yaitu penyilangan antara pejantan yang telah diketahui kualitasnya dengan betina setempat. Pejantan tersebut didatangkan dari luar negeri.

3. Mutasi buatan

Mutasi adalah pengubahan struktur kimia molekul gen (DNA) dari sel kelamin induk yang dapat menyebabkan perubahan sifat pada anaknya. Mutasi dapat dilakukan dengan memanipulsi gen menggunakan radioisotop, misalnya sinar alfa, beta, gama dan zat kolkisin. Mutasi buatan pada tanaman umumnya memperoleh keturunan yang bersifat poliploid. Turunan yang bersifat poliploid ini dapat memberikan hasil yang lebih tinggi, seperti buah besar dan tidak berbiji. Mutasi tanaman dapat dilakukan terhadap tanaman tomat, anggur, jambu, semangka, dan lain-lain.

Kerugian dari poliploid adalah tidak dapat membentuk alat perkembangbiakan sendiri.

a. Hewan unggul

Hewan jenis unggul, di antaranya :

Domba jenis unggul : Dorsit Down Clum Forest, Dorset Horn, Suffolk, Romney Marsh, texel dan Deron Long Wool.

Sapi jenis unggul : Aberdeen, Hereford, Dairy Shorthorn, Red Fool Angus

Ayam jenis unggul : White Lighorn, Rhode Island Red, Black Leghorn Anconam Light Sussex dan Black Minora

b. Tanaman unggul

Tanaman jenis unggul, di antaranya :

Padi jenis unggul hasil seleksi dan hibridisasi : padi bengawan, PB5, PB8, Cisadanem si gadis, gajah mungkur. Padi hasil mutasi buiatan contohnya Atomita I (berasal dari padi Pelita I yang tahan terhadap wereng coklat dan wereng hijau) dan Atomita II (berasal dari Pelita II yang tahan terhadap wereng coklat dan wereng hijau, tahan terhadap bacteri pucuk, dan sesuai dengan lingkungan asin). Sayuran dan buah-buahan : tomat tanpa biji, semangka tanpa biji dan jambu tanpa biji

4. Transplantasi buatan

Transplantasi gen dikenal juga dengan nama pencangkokan gen. Dengan memanfaatkan teknologi mutakhir, para ahli telah berhasil menetukan kedudukan gen di dalam kromosom. Bahkan dengan perantaraan mikroorganisme bersel satu mereka telah mampu meniadakan gen dari suatu species ke kromosom species lainnya.

5. Kultur jaringan

Kultur jaringan adalah suatu cara memperoleh bibit unggul dengan cara yang cepat dan hanya terjadi pada tumbuhan yang telah diketahui kualitasnya. Memperbanyak bibit unggul dapat dilakukan dengan memotong-motong organ tanaman dengan syarat- sayarat :

- sel dan organ tidak rusak

- sebaiknya sebelum memotong, harus menyediakan media pertumbuhan lalu hasil potongan tadi di letakan satu-persatu pada media yang tersedia dengan diberi hormon pertumbuhan



by. Teddy
READ MORE - UPAYA MANUSIA DALAM PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ALAM HAYATI

Tuesday, October 13, 2009

Gejala-gejala Sesaat Setelah Mati


Sesaat sebelum mati Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin di telinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.

0 Menit
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.

1 Menit
Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.

3 Menit
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.

4 – 5 Menit
Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.

7 – 9 Menit
Penghubung ke otak mulai mati(efek yang sama terjadi ketika anda menyaksikan sinetron…
1 – 4 Jam
Rigor Mortis(Fase Dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

4 – 6 Jam
Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.

6 Jam
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.

8 Jam
Suhu tubuh langsung menurun drastis.

24 – 72 Jam
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.

36 – 48 Jam
Rigor Mortis Berhenti, Tubuh anda selentur penari balerina.

3 – 5 Hari
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

8 – 10 Hari
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.

Beberapa Minggu
Rambut, Kuku, Dan Gigi dengan mudahnya terlepas.

Satu Bulan
Kulit Anda mulai mencair.

Satu Tahun
Selain tulang-belulang tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh anda. Sekarang Anda adalah saingan Twiggy dan Calista Flockhart.
READ MORE - Gejala-gejala Sesaat Setelah Mati

bahasa pascal

Apakah Program itu ?
Instruksi – instruksi yang diberikan kepada computer agar computer dapat melaksanakan tugas – tugas tertentu dikenal sebutan program, sebuah program berisi sekumpulan kode, kode – kode yang digunakan dapat bermacam – macam dan bergantung oleh bahasa pemrograman komputer yang digunakan. Adapun upaya untuk membuat program dikenal dengan sebutan pemrograman atau pengkodean.

Bahasa Pemrograman ?

Seperti halnya manusia yang mempunyai bermacam – macam bahasa, begitu juga komputer. Namun berbeda dengan manusia yang bahasa dasarnya bervariasi, tergantung suku, bangsa atau bermukim, komputer hanya mempunyai bahasa dasar yang berupa bahasa mesin. Bahasa mesin adalah bahasa yang hanya mengenal kode biner, yaitu 0 dan 1 saja. Bahasa ini sudah tentu sulit bagi manusia. Menulis program dengan bahasa mesin sungguh sangat menjemukan, menyita waktu bagi penilisnya dan menuntut pengetahuan tentang mesin tiu sendiri.

Agar program mudah dibuat maka akhirnya diciptakanlah bahasa pemrograman computer yang lain. Pada dasarnya ada dua golongan bahasa pemrograman computer, yaitu :

1. Bahasa Tingkat Rendah (low-level language)
Merupakan bahasa assembly atau bahasa mesin. Lebih dekat ke mesin (hardware), dimana high-level programming languages dekat pada bahasa manusia.

- Bahasa Mesin (machine language)
Bahasa mesin merupakan representasi tertulis machine code (kode mesin), yaitu kode operasi suatu mesin tertentu. Bahasa ini bersifat khusus untuk mesin tertentu dan "dimengerti" langsung oleh mesin, sehingga pelaksanaan proses sangat cepat. Bahasa mesin kelompok komputer tertentu berlainan dengan bahasa mesin kelompok komputer yang lain. Abstraksi bahasa ini adalah kumpulan kombinasi kode biner "0" dan "1" yang sangat tidak alamiah bagi kebanyakan orang - kecuali insinyur pembuat mesin komputer. Karena tidak alamiah bagi kebanyakan orang, bahasa mesin juga disebut bahasa tingkat rendah.


- Bahasa Assembly (assembly language)
Bahasa rakitan (assembly language) merupakan notasi untuk menyajikan bahasa mesin yang lebih mudah dibaca dan dipahami oleh manusia. Bahasa ini sudah menggunakan simbol alpabet yang bermakna (mnemonic). Contoh “MOV AX 1111”, pindahkan ke register AX nilai 1111. Proses data oleh komputer berdasarkan perintah bahasa rakitan adalah cepat. Meski demikian masih merepotkan-bahkan bagi kebanyakan pemrogram, karena masih harus mengingat-ingat tempat penyimpanan data. Bahasa rakitan juga bersifat khusus untuk mesin tertentu. Contoh: Assembler.
2. Bahasa Tingkat Tinggi (high-level language)
Adalah bahasa pemrograman yang dekat dengan bahasa manusia, kelebihan utama dari bahasa ini adalah mudah untuk di baca, tulis, maupun diperbaharui, sebelum bisa dijalankan program harus terlebih dahulu di-compile. Contoh : Ada, Algol, BASIC, COBOL, C, C++, FORTRAN, LISP, dan Pascal, dsb.
Pada generasi bahasa pemrograman terakhir sekarang ini, kedua cara interpretasi dan kompilasi digabungkan dalam satu lingkungan pengembangan terpadu (IDE = integrated development environment).
Cara interpretasi memudahkan dalam pembuatan program secara interaktif dan cara kompilasi menjadikan eksekusi program lebih cepat. Pertama program dikembangkan interaktif, kemudian setelah tidak ada kesalahan keseluruhan program dikompilasi. Contoh bahasa program seperti ini adalah Visual BASIC yang berbasis BASIC dan Delphi yang berbasis PASCAL.
Bahasa tingkat tinggi bersifat portable. Program yang dibuat menggunakan bahasa tingkat tinggi pada suatu mesin komputer bersistem operasi tertentu, hampir 100% bisa digunakan pada berbagai mesin dengan aneka sistem operasi. Kalaupun ada perbaikan sifatnya kecil sekali.

Langkah – langkah membuat program :
Mengidentifikasi masalah
Sebelum kita membuat program maka terlebih dahulu harus memahami permasalahannya. Contoh : misalkan kita akan membuat program menghitung luas segitiga : untuk menghitung luas segitiga kita membutuhkan alas, tinggi lalu menghitung luas dengan rumus : ½ x a x t.

Merumuskan masalah
Di dalam merumuskan masalah kita bisa menggunakan alur atau yang dikenal dengan sebutan Algoritma, algoritma itu sendiri diambil dari seorang Matematikawan yang bernama Mohammed Ibn Musa Al- Khwarizmi, ada 3 bentuk algoritma yaitu :
Algoritmanya dalam bahasa sehari-hari
Bentuk algoritma ini menggunakan bahasa sehari – hari yang sering kita pakai, contohnya Algoritma menghitung luas segitiga :
1. mulai
2. masukkan alas dan tinggi
3. hitung luas dengan rumus l = 0,5 x alas x tinggi
4. tampilkan l
5. selesai
Algoritma dalam bentuk pseudocode
Bentuk algoritma ini sudah menggunakan kode – kode pascal, contohnya :
1. start
2. input a,t
3. proses : l:=0.5*a*t
4. output l
5. end.

READ MORE - bahasa pascal

Monday, October 12, 2009

TRIK MENGAMBIL FILE DI GOOGLE BOOK

Google Book adalah suatu server yang menyedia berbagai buku secara online sehingga publik bisa melihat dan membacanya, tetapi publik tidak bisa mengcopynya. Dapat ibaratkan sebagai perpustakaan online.

Sebenarnya untuk mengambil file di google book dapat menggunakan software “Google Book Downloader v0.1? plus “NetFrame v3.0?, tetapi disini saya akan membahasnya secara manual. Karena kualitas komputer saya tidak cukup kuat untuk menginstal kedua software tersebut.

Sesuai dengan moto saya “^_n07h1n6 1s s3cUr3_^” di dalam dunia maya, semua yang rahasia dan aman dapat menjadi FULL ACCESS. Sebelum ke TKP, lebih baik kita cari tahu dulu lokasi “Temporary Internet Files” berada. Kita buka IE –> Pilih Menu “Tools” –> Klik “Internet Options (lihat gambar dibawah ini)




Sesudah itu, pilih menu “General” –> klik “Settings” di kolom “Browsing History” (lihat gambar dibawah ini)







Sesudah itu, kita klik “View Files” dan lokasi “Temporary Internet Files” terbuka dech (lihat gambar dibawah ini)









Pastikan “Temporary Internet Files” dalam keadaan kosong. Untuk mengosongkan itu, saya memakai software “Windows Washer v4.7? (versi terbarunya bisa Anda dapatkan di Members Area spyroZONE.NET). Beri tanda ceklist di samping “Temporary Files Directory”, lalu klik “Wash Now”









Oke sekarang kita langsung ke TKP di http://books.google.co.id/, lalu masukan buku yang hendak kita baca, contohnya: “Membuat Objek 3D Dengan Photoshop” –> klik “cari buku”. Setelah itu, pilih salah satu buku dari hasil pencarian tersebut.









Disini saya membuka salah satu dari hasil pencarian yaitu “Buku Latihan : Desain Title Movie Dengan Photoshop Cs2 – Halaman 234? dan hasilnya:









Sekarang “Temporary Files Directory” yang tadinya kosong sudah terisi (klik “Refresh” terlebih dahulu)










Disini kita memerlukan ketelitian bagaimana file Google Book dapat diambil? Sebelumnya kita harus mengetahui dihalaman berapa buku yang tadi kita buka? Lihat di gambar ini:







Ternyata di halaman 234. Dan sekarang kita kembali lagi ke “Temporary Internet Files” dan cari yang berkaitan dengan angka “234?. Hasilnya:









Ternyata ada 5 file yang terdapat angka “234?. Dan manakah file yang benar dari 5 tersebut? Jawabannya adalah di file ke 5 dengan ekstensi “PNG Image”.









Coba kita copy file tersebut di “My Document” lalu lihat apakah sama dengan hasil yang tadi?









Lalu bandingkan dengan hasil yang tadi kita buka di web









He5x …Ternyata sama euyyyy…


…oO0–( NOTE :




  • File tersebut ada 2 ekstensi, yaitu PNG & JPEG Image




  • Tidak semua halaman di google book dapat ditampilkan, karena ada suatu prosedur yang berlaku dalam mempublikasikan buku secara online.




  • Rahasianya untuk mendapatkan file di google book adalah halaman buku yang kita buka.



    Author : RaY-29


    Contact : ray_stv29[et]yahoo.co.id



  • READ MORE - TRIK MENGAMBIL FILE DI GOOGLE BOOK

    “Kevin Mitnick” Legenda Hacker Dunia



    Sebuah ketukan terdengar dari pintu apartemennya, Kevin Mitnick membuka pintu dan mendapati lusinan agen FBI dan penegak hukum lain sudah bersiap untuk menangkapnya. Ini adalah akhir perjalanan seorang hacker yang terpaksa buron demi menghindari hukuman penjara. Hacker yang selama masa buronannya itu telah mendapatkan status legendaris, bahkan telah tumbuh menjadi sebuah mitos yang lebih besar dari dirinya sendiri

    Penangkapan yang terjadi pada 1995 itu menandai awal dari kasus penahanan yang paling kontroversial terhadap seorang pelaku kejahatan cyber. Mitnick adalah seorang penyusup pada sistem komputer menjelma sebagai America’s Most Wanted Hacker.

    Mitnick mudah mempelajari komputer dengan nongkrong di toko radioshack atau diperpustakaan umum, keluarganya tidak cukup berduit untuk memiliki komputer sendiri. Kesukaannya pada komputer berkembang hingga ia dewasa.

    Pada periode 1990-an, Mitnick mudah sekali keluar masuk sistem komputer. Namun pada akhir 1980-an ia sebenarnya ingin meninggalkan hobynya tersebut dan mulai mencari pekerjaan yang sah. Sayangnya, sebelum ia bisa melakukan itu, pada 1987 ia tertangkap karena menyusup perusahaan Santa Cruz Organization, sebuah perusahaan piranti lunak yang terutama bergerak dibidang sistem operasi Unix. Ketika itu pengacara mitnik berhasil menurunkan tuduhan kejahatan menjadi tindakan yang kurang baik, Mitnick pun hanya di ganjar 3 tahun masa percobaan.

    Tidak sampai setahun Mitnick kembali tersandung kasus hukum. Gara-garanya seorang teman yang komputernya ia gunakan untuk membobol komputer lain melaporkan Mitnick yang berwajib kali itu yang dibobol Mitnick adalah milik Digital Equipment Corporation. Setiap kali membobol komputer yang dilakukan mitnik adalah mengambil code penyusun dari piranti lunak. Kode itu kemudian dia pelajari dengan sungguh-sungguh, terkadang menemukan beberapa kelemahan didalamnya. Dalam sebuah kesempatan Mitnick hanya mengaku mengambil kode penyusun dari piranti lunak yang ia sukai atau yang menarik baginya.

    Dalam kasus DEC Mitnick mendapatkan masa tahanan yang lebih berat. Ketika itu pengacaranya menyebut Mitnick memiliki, ‘kecanduan pada komputer yang tidak bisa dihentikan’. Ia diganjar 1 tahun penjara.

    Di penjara Mitnick mendapatkan pengalaman yang buruk. Pada saat itu legenda Kevin Mitnick atau yang lebih dikenal juga dengan nama samaran ‘the condor’, sudah semakin membesar. Reputasinya sebagai seorang
    penjahat komputer juga semakin membumbung melebihi kenyataan. Sipir di Lompoc, penjara tempat Mitnick berada, mengira Mitnick bisa menyusup kedalam komputer hanya dengan berbekal suara dan telepon. Walhasil
    Mitnick bukan hanya tidak boleh menggunakan telepon, ia juga menghabiskan waktu berbulan bulan dalam ruang isolasi. Tak heran jika kemudian ia dikabarkan mengalami sedikit gangguan jiwa saat menjalani hukuman di Lompoc.

    Tahun 1989 Mitnick dilepaskan dari penjara. Ia berusaha mencari pekerjaan yang resmi, namun statusnya sebagai mantan narapidana membuat Mitnick sulit mempertahankan pekerjaan. Akhirnya ia bekerja sebagai
    pendulang informasi untuk kantor penyelidik kantor swasta. Tentunya ini menyeret Mitnick kembali kepada dalam dunia yang abu-abu dan hitam. Pada awal 1990-an, Mitnickpun dicari lagi oleh FBI. Kali ini takut akan masuk ruang isolasi selama bertahun-tahun, Mitnick memutuskan untuk kabur.

    Keahlian Mitnick sebagai hacker tidak terbatas pada kemapuan teknis belaka. Ia merupakan pada kemampuan teknis belaka. Ia merupakan seorang yang memahami betul bahwa keamanan sistem komputer terdiri dari aspek kebijakan organisasi, sumber daya manusia, proses yang terlibat serta teknologi yang digunakan. Seandainya ia seoarang pahlawan super kemapuannya utama Mitnick adalah seoarang yang mempraktekan ilmu social engginering alias rekayasa sosial. Ini adalah sebuah teknik mendapatkan informasi penting, semisal password, dengan memanfaatkan kelemahan manusiawi.

    Kemampuan Mitnick paling baik diilustrasikan dalam cerita berikut, cerita yang dikisahkan Mitnick sendiri pada sebuah forum online Slasdot.org

    “Pada satu kesempatan, saya ditantang oleh seorang teman untuk mendapatkan nomor (telepon) Sprint Foncard-nya. Ia mengatakan akan membelikan makan malam jika saya bisa mendapatkan nomor itu. Saya tidak akan menolak makan enak, jadi saya berusahan dengan menghubungi Customer Service dan perpura-pura sebagai seorang dari bagian teknologi informasi. Saya tanyakan pada petugas yang menjawab apakah ia mengalami kesulitan pada sitem yang digunakan. Ia bilang tidak, saya tanyakan sistem yang digunakan untuk mengakses data pelanggan, saya berpura-pura ingin memverifikasi. Ia menyebutkan nama sistemnya.”

    “Setelah itu saya kembali menelepon Costumer Service dan dihubungkan dengan petugas yang berbeda. Saya bilang bahwa komputer saya rusak dan saya ingin melihat data seorang pelanggan. Ia mengatakan data itu sudah berjibun pertanyaan. Siapa nama anda? Anda kerja buat siapa? Alamat anda dimana? Yah, seperti itulah. Karena saya kurang riset, saya mengarang nama dan tempat saja. Gagal. Ia bilang akan melaporkan telepon telepon ini pada keamanan.”

    “Karena saya mencatat namanya, saya membawa sorang teman dan memberitahukannya tentang situasi yang terjadi. Saya meminta teman itu untuk menyamar sebagai ‘penyelidik keamaman’ untuk mencatat laporan dari petugas Customer Service dan berbicara dengan petugas tadi. Sebagai ‘penyelidik’ ia mengatakan menerima laporan adanya orang berusaha mendapatkan informasi pribadinya pelanggan. Setelah tanya jawab soal telepon tadi, ‘penyelidik menyakan apa informasi yang diminta penelepon tadi. Petugas itu bilang nomor Foncard. ‘penyelidik’ bertanya, memang berapa nomornya? Dan petugas itu memberikan nomornya. Oops. Kasus selesai”

    Sebaga i buronan Mitnick berusahan sebisa mungkin untuk tidak tertangkap. Ia sering berpindah-pindah tempat tinggal dan selalu menanggalkan berbagai kebiasaan. Berbagai cara ia lakukan agar tidak terlacak oleh pengejarnya. Namun ia tidak bisa meninggalkan hobinya mengoprek komputer dan jaringan Internetnya. Bahkan beberapa keahliannya konon digunakan untuk mendapatkan identitas baru.

    Legenda Mitnick selama buron dalam kurang lebih dua tahun, semakin menjadi-jadi ia menjelama sebagai ‘Ninja Cyber’ yang konon bisa membobol komputer Pentagon hanya dengan remote televisi, sebuah rumor yang melebihi cerita fiksi apapun.

    Mengapa Mitnick, seorang buron dalam kasus pembobolan komputer, bisa menjadi penjahat yang paling dicari? Ini tak lepas dari peran media massa. Secara khusus adalah serangkaian artikel sensasional dari John Markoff yang dimuat di New York Times.

    Markoff mengutuk Mitnick bagaikan seorang teroris. Dalam sebuah pernyataan setelah lama dibebaskan, Mitnick menyebut citra dirinya yang ditampilkan Markoff bagaikan seoarang teroris yang berusaha mengendalikan nuklir dunia. “saya seakan-akan seorang Osama bin Mitnic,” ujarnya bercanda.



    Markoff menggambarkan Mitnick sebagai seorang yang mematikan, tak bisa dihentikan dan layak menjadi buronan sepuluh besar FBI maupun penegak hukum lainnya. Artikel Mafkoff, yang kadang muncul di halaman depan, menjadikan Mitnick kandidat terkuat proyek percontohan atas kejahatan cyber. Maka masa depan Mitnick dalam penjara boleh dibilang sudah dituliskan saati itu juga.

    Selama menjadi buron Mitnick juga terus menjalankan aksinya. Ia membobol berbagai komputer perusahaan besar. Termasuk Sun Microsystem. Ia menggunakan, dan maksutnya disini adalah membobol rekening seorang pada layanan penyimpanan online untuk menyimpan backup dari hasil aksinya. Sebenarnya Mitnick tidak bekerja sendirian namun saat tertangkap ia tak pernah mengungkapkan siapa saja rekannya.

    Salah satu korban Mitnick adalah T. Shimomura, seorang ahli komputer yang dalam beberapa tulisan di Internet diragukan kebersihannya. Ada dugaan bahwa Shimomura juga seorang hacker yang kerap melakukan perbuatan ilegal. Satu hal yang banyak disetujui adalah Shimomura memiliki sikap yang arogan dan nampaknya ingin muncul sebagai pahlawan dalam kisah perburuan Mintick.

    Shimomura, Markoff dan FBI bahu membahu untuk menangkap sang buronan. Panduan dari berita sensasionalnya Mafkoff, kemampuannya hacking Shimomura dan kekuatan hukum FBI pada akhirnya melacak kediaman Mitnick.

    Seperti biasanya kisah tertangkapnya seoarang buron, Mitnick melakukan ketledoran. Layanan penyimpanan yang ia gunakan rupanya memiliki program otomatis untuk mencek isi file yang disimpan. Pemilik rekening yang digunakan Mitnick mendapatkan peringatan dari sistem mengenai kapasitas berlebih. Ini adalah awal tertangkapnya Mitnick.

    Mitnick mengakui bahwa dirinya ceroboh karena tidak menduga bahwa FBI, Shimomura, Markoff, dan penyedia layanan telepon selular melakukan kerja sama yang begitu erat dan terpadu.

    “Operator seluler melakukan pencarian dalam database penagihan mereka terhadap dial-up ke layanan Internet Netcom POP. Ini, seperti bisa diduga, membuat mereka bisa mengidentifikasi area panggilan dan nomor MIN (mobile identification number) yang saya gunakan saat itu. Karena saya kerap berganti nomor, mereka mengawasi panggilan data apapun yang terjadi di lokasi tersebut. Lalu, dengan alat Cellscope 2000 Shimomura, melacak sinyal telepon saya hingga ke lokasi yang tepat,”Mitnick menuturkan.

    Dua minggu sebelum tertangkapnya Mitnick baru pindah ke Raleigh. Lokasi baru membuat kurang waspada dan ia lupa melacak jalur dial-up yang digunakannnya. Beberapa jam sebelum tertangkapnya Mitnick baru ada sesuatu yang terjadi, pelacakan dan pengawasan sedang dilakukan terhadap jalur yang ia gunakan. Saat ia sedang berusaha melacak sejauh mana pengawasan telah dilakukan hingga siapa dilbalik pelacakan tersebut, ia mendengar ketukan pintu. Mitnick membuka pintu dan berhadapan dengan lusinan U.S Marshall dan FBI.

    Setelah tertangkap Mitnick ditahan tanpa kemungkinan jaminan. Ia juga tak diajukan untuk pengadilan. Kurang lebih empat tahun ia habiskan tanpa kepastian. Hal ini benar-benar membuat Mitnick frustasi.

    Selama dalam penjara FBI ia tak mendapatkan kesempatan dalam kasusnya. Bahkan Mitnick dan pengacaranya tak bisa melihat data kasus tersebut karena terdapat di laptop dan akses laptop bagi Mitnick dianggap membahayakan. Mitnick dituding bisa membuat misil meluncur hanya berbekal laptop atau telepon. Larangn itu tetap berlaku meskipun pengacaranya menggunakan laptop tanpa modem dan kemampuan jaringan apapun.

    Mitnick pada akhirnya dituding menyebabkan kerugian hingga ratusan juta dollar kerugian yang menurut Mitnick tidak benar, karena perusahaan yang konon dirugikan bahkan tidak melaporkan kerugian tersebut dalam laporan tahunan mereka.

    Kesepakatan akhir bagi Mitnick adalah pengakuan bersalah. Bersalah dalam kasus pembobolan komputer dan penyadapan jalur telepon. Mitnick menyerah dan mengikuti itu, dengan imbalan 4 tahun tahun lebih waktunya dalam penjara diperhitungkan sebagai mas tahanan. Total Mitnick dihukum adalah 5 tahun dipenjara , 4 tahun dalam tahanan yang terkatung-katung dan 1 tahun lagi sisanya.

    Ia dibebaskan pada tahun 2000 dengan syarat tak boleh menyentuh komputer atau telepon. Pada tahun 2002 baru ia boleh menggunakan komputer tapi tidak yang tersambung ke Internet. Baru tahun 2003 ia menggunakan Internet lagi untuk pertama kalinya.

    Sejak dibebaskan Mitnic berusaha untuk memperbaiki hidupnya. Ia menuliskan dua buku mengenai hacking, selain itu ia juga mendirikan perusahaan konsultan keamanan sendiri. “Hacker adalah satu-satunya kejahatan yang keahliannya bisa digunakan lagi untuk sesuatu yang etis. Saya tidak pernah melihat itu dibidang lain, misal perampokan etis,” tutur Mitnick.

    Penulis : Antonius Fran Setiawan
    Product Manager Buku IT. Desain, dan Multimedia sebuah Perusahaan Penerbit
    READ MORE - “Kevin Mitnick” Legenda Hacker Dunia

    Lebih hebat dari Bom Atom



    *Tanggal 27 Agustus kemarin genap sudah 123 tahun letusan dahsyat Krakatau
    yang sempat menggoncangkan seluruh dunia. Pada tanggal 27 Agustus 1883, bertepatan dengan hari Minggu, dentuman pada pukul 10.02 terdengar di seluruh wilayah Nusantara, bahkan sampai ke Singapura, Australia, Filipina, dan Jepang. Bencana yang merupakan salah satu letusan terhebat di dunia itu sempat merenggut sekitar 36.500 jiwa manusia.

    Kegiatan dimulai dengan letusan pada tanggal 20 Mei 1883, waktu kawah Perbuatan memuntahkan abu gunung api dan uap air sampai ketinggian 11 km ke udara. Letusan ini walaupun terdengar sampai lebih dari 350 km (sampai Palembang), tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

    Pada letusan tanggal 27 Agustus itu bebatuan disemburkan setinggi 55.000 m dan gelombang pasang (Tsunami) yang ditimbulkan menyapu bersih 163 desa. Abunya mencapai jarak 5.330 km sepuluh hari kemudian. Kekuatan ledakan Krakatau ini diperkirakan 26 kali lebih besar dari ledakan bom hidrogen
    terkuat dalam percobaan.

    *Dikira Meriam Apel*
    Seorang pengamat di rumahnya di Bogor, pada tanggal 26 Agustus pukul satu siang mendengar suara gemuruh yang tadinya dikira suara guntur di tempat jauh. Lewat pukul setengah tiga siang mulai terdengar letupan pendek, sehingga ia mulai yakin bahwa kegaduhan itu berasal dari kegiatan Krakatau, lebih-lebih sebab suara berasal dari arah barat laut-barat. Di Batavia gemuruh itu juga dapat didengar, demikian pula di Anyer. Di serang dan Bandung suara-suara itu mulai terdengar pukul tiga.

    Seorang bintara Belanda yang ditempatkan di Batavia mengisahkan pengalaman pribadinya. Seperti banyak orang lainnya ia mengira bahwa dunia akan kiamat saat itu.

    “Tanggal 26 Agustus itu bertepatan dengan hari Minggu. Sebagai sersan pada batalyon ke-IX di Weltevreden (Jakarta Pusat) hari itu saya diperintahkan bertugas di penjagaan utama di Lapangan Singa. Cuaca terasa sangat menekan. Langit pekat berawan mendung. Waktu hujan mulai menghambur, saya terheran-heran bahwa di samping air juga jatuh butiran-butiran es.”

    “Sekitar pukul dua siang terdengar suara gemuruh dari arah barat. Tampaknya seperti ada badai hujan, tetapi diselingi dengan letupan-letupan, sehingga orangpun tahu bahwa itu bukan badai halilintar biasa.”

    “Di meja redaksi koran Java Bode orang segera ingat pada gunung Krakatau yang sudah sejak beberapa bulan menunjukkan kegiatan setelah beristirahat selama dua abad. Mereka mengirim kawat kepada koresponden di Anyer, sebuah pelabuhan kecil di tepi Selat Sunda, tempat orang bisa menatap sosok Krakatau dengan jelas pada cuaca cerah. Jawabnya tiba dengan cepat: ‘Di sini begitu gelap, sampai tak bisa melihat tangan sendiri.’ Inilah berita terakhir yang dikirimkan dari Anyer…”

    “Pukul lima sore gemuruh itu makin menghebat, tapi tidak terlihat kilat. Letusan susul-menyusul lebih kerap, seperti tembakan meriam berat. Dari Lapangan Raja (Merdeka, Red.) dan Lapangan Singa (Banteng) terlihat
    kilatan-kilatan seperti halilintar di ufuk barat, bukan dari atas ke bawah, tetapi dari bawah ke atas. Waktu hari berangsur gelap, di kaki langit sebelah barat masih terlihat pijaran cahaya.”

    “Sudah menjadi kebiasaan bahwa tiap hari pukul delapan tepat di benteng (Frederik Hendrik, sekarang Mesjid Istiqlal) ditembakkan meriam sebagai isyarat upacara, disusul dengan bunyi terompet yang mewajibkan semua prajurit masuk tangsi. Para penabuh genderang dan peniup terompet batalyon itu sudah siap pada pukul delapan kurang seperempat. Mereka masih merokok santai sebelum mereka berbaris untuk memberikan isyarat itu. Tiba-tiba terdengar tembakan meriam menggelegar, jauh lebih dini daripada biasanya.
    Mereka segera berkumpul membentuk barisan dan setelah terompet dibunyikan, mereka berbaris sambil membunyikan genderang dan meniup terompet. Baru saja mereka mencapai asrama ketika meriam yang sebenarnya menggelegar dari dalam benteng. Gunung Krakatau ternyata mengecoh mereka!”

    *Batavia** Jadi Dingin*
    “Sementara itu ‘penembakan’ berlangsung terus. Kadang-kadang bunyinya seperti tembakan salvo beruntun, kilatan-kilatan menyambar-nyambar ke langit. Semua orang tercekam ketakutan. Tiada seorangpun percaya bahwa ada badai mengamuk jauh di sana. Hampir tidak ada orang yang berani tidur malam itu. Banyak yang berkumpul di halaman rumah mereka sambil mengarahkan pandangan mereka ke arah barat dan memperbincangkan kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan gejala alam yang aneh itu. Hanya anak negeri yang tak ragu-ragu: ‘Ada gunung pecah,’ kata mereka.”

    “Menjelang tengah malam tiba perwira piket, Letnan Koehler. Ia mengatakan kepada saya bahwa seluruh kota sedang dalam keadaan panik. Penduduk asli berkumpul di masijid-masjid untuk bersembahyang. Penduduk Belanda tetap terjaga di rumah masing-masing atau pergi ke rumah bola Concordia atau Harmonie untuk saling mencari dukungan dari sesamanya.”

    “Menjelang pukul dua pagi rentetan letusan bak tembakan cepat artileri itu mencapai puncaknya. Rumah-rumah batu bergetar dan jendela-jendela bergemerincing. Gelas lampu penerangan jalan jatuh dan bertebaran di tanah, kaca etalase toko pecah, penerangan gas di banyak rumah padam. Sesudah itu ledakan-ledakan mereda, namun dari arah barat masih terdegar suara gemuruh.”

    “Kemudian saya merasakan bahwa udara makin menjadi dingin. Dalam beberapa jam saja suhu udara telah menurun sedemikian rupa, sampai saya gemetar kedinginan di pos jaga. Belum pernah di Batavia udara sedingin itu. Waktu saya melihat keluar ternyata seluruh kota diliputi oleh kabut tebal. Penerangan jalan di seberang Lapangan Singa tak dapat saya lihat lagi,meskipun saya mendengar dari rekan lain bahwa lampu-lampu masih menyala. Tak lama kemudian ternyata kabut itu bukan kabut biasa, melainkan hujan abu, yang jatuh tak lama setelah lewat tengah malam - mula-mula jarang-jarang, tetapi makin lama makin deras, sehingga segalanya terselimuti oleh kabut abu yang tebal.”

    “Pada pukul enam pagi, sesuai peraturan, semua lampu harus dipadamkan, tetapi matahari tidak terbit! Baru sekitar pukul tujuh nampaknya fajar seperti akan menyingsing, tetapi hari itu tak akan menjadi terang. Hawa
    makin menjadi dingin, sehingga saya memerintahkan anak buah saya untuk mengenakan jas hujan mereka. Sementara itu abu turun dengan tiada putus-putusnya. Abu itu ke mana-mana, bangsal jaga juga dilapisi oleh
    serbuk halus yang berwarna kelabu keputih-putihan. Prajurit jaga yang saya lihat dari jendela sedang mondar-mandir, nampak seperti boneka salju kelabu yang bergerak secara mekanis.”

    “Sekitar pukul sembilan pagi ledakan-ledakan dan guruh makin bertambah. Pada pukul sepuluh hari gelap seperti malam. Lampu-lampu gas dinyalakan kembali. Lapisan abu setebal 15 mm menutupi segala yang ada. Jalan-jalan sunyi senyap, tak ada yang berani menampakkan diri. Saya merasa seorang diri di dunia, di dunia yang tak lama lagi bakal runtuh!”

    “Pada pukul 10.40 akhirnya tiba telegram dari Serang, yang isinya memuat sedikit keterangan mengenai penyebab gejala-gejala alam yang mengerikan itu. Kawat itu berbunyi: ‘Kemarin petang Krakatau bekerja. Bisa didengarkan di sini. Semalam suntuk cahayanya terlihat jelas. Sejak pukul sebelas ledakan-ledakan makin hebat dan tak terputus-putus. Setelah hujan abu deras pagi ini matahari tak tampak, gelapnya seperti pukul setengah tujuh malam. Merak dimusnahkan gelombang pasang. Sekarang di sini sedang hujan
    kerikil. Tanpa payung kuat tak ada yang berani keluar.’”

    “Lewat pukul duabelas, ketika di Batavia masih gelap gulita dan sangat dingin, tersiar berita kawat dari pelabuhan Pasar Ikan dan Tanjung Priok. Sebuah gelombang pasang telah membanjiri kota bagian bawah. Permukaan air dua meter di atas garis garis normal. Kapal uap Prinses Wilhelmina dicampakkan ke pangkalan, seperti juga kapal Tjiliwoeng yang cerobong asapnya merusak atap kantor pabean. Sejumlah kapal motor dan perahu terdampar acak-acakan di Pelabuhan Pasar Ikan, berlumuran lumpur dan abu tebal. Pengungsi mulai mengalir sepanjang jalan raya dengan membawa harta benda yang bisa dijinjing ke arah Weltevreden yang lebih tinggi letaknya. Pada pukul dua dan empat sore datang lagi gelombang pasang, tetapi kali ini kurang tinggi dibandingkan yang pertama.”

    “Di sebelah barat kini menjadi tenang dan kelam makin berkurang, sehingga matahari mulai nampak sebagai bercak merah kotor pada langit yang kelabu.”

    “Pada pukul lima petang saya diganti dan menerima perintah untuk segera menyiapkan suatu pasukan yang akan diberangkatkana ke daerah yang terkena musibah di Sumatra Selatan. Pada saat itu di Batavia tidak seorangpun tahu dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi di sebelah barat. Semua hubungan telegram dengan daerah yang terlanda malapetaka terputus.”

    *Serang Sunyi Mencekam*
    Kalau di Jakarta, air pasang itu tak mengambil korban terlalu besar, tapi di daerah pantai sebelah barat Jawa Barat yang lebih dekat dengan gunung yang sedang murka itu, akibatnya sangat mengerikan. Di Tangerang, pantai utaranya digenangi sampai sejauh satu hingga satu setengah km dengan meminta korban manusia cukup besar. Sembilan buah desa pantai musnah. Korban di daerah ini tercatat 1.794 orang penduduk asli dan 546 Cina dan Timur Asing lainnya.

    Di Serang suara gemuruh mulai terdengar pada pukul 3 siang, hari Minggu. Malamnya terus-menerus tercium bau belerang dan guruh serta kilat terlihat dari arah Krakatau. Hari Seninnya langit di sebelah barat berwarna
    kelabu, lalu hujan abu turun tanpa hentinya. Pukul setengah sebelas hari mulai kelam, dan makin menggelap, sehingga hampir tak terlihat apa-apa. Lewat pukul sebelas datang kawat dari Serang bahwa telah terjadi hujan kerikil batu apung; tak lama kemudian hubungan telegram dengan Jakarta terputus. Setelah hujan kerikil menyusul hujan lumpur, yakni abu basah yang melekat pada daun-daun dan dahan-dahan pohon sehingga kadang-kadang runtuh karena beratnya. Sekitar pukul 12 hujan lumpur ini berhenti, tetapi abu kering tetap turun.

    Anehnya, selama itu di Serang tak terdengar letusan-letusan, bahkan suasana sangat sepi mencekam, yang membuat banyak orang makin gugup dan tertekan. Hewan peliharaan juga makin gelisah, mereka ingin sedekat mungkin dengan manusia di dalam rumah, di dekat lampu. Dengan kekerasan sekalipun hewan-hewan itu tak berhasil diusir. Setelah pukul dua siang langit mulai terlihat agak terang di sebelah timur, ayam-ayam jantan mulai berkokok. Suara gemuruh mulai terdengar lagi, sedang hujan abu turun terus-menerus dan bau abu belerang menusuk hidung. Pada pukul empat sore lampu-lampu masih dinyalakan.

    Surat-surat kabar yang terbit di Batavia tertanggal 28, 31 Agustus, dan 4 September penuh dengan berita-berita tentang malapetaka yang menimpa daerah Banten. Tetapi jarang sekali ada kisah dari saksi mata, sebab
    tempat-tempat yang letaknya di tepi pantai seperti Merak, Anyer, dan Caringin, hancur luluh dan hanya ada beberapa orang Belanda yang melarikan diri dan tertolong pada saat yang tepat.

    *Ketika Siuman Semua Gelap*
    Di Merak seorang pemegang buku pada perusahaan pelabuhan bernama E. Pechler merupakan satu-satunya orang Belanda yang lolos. Ia sedang bertugas membawa telegram atasannya untuk dikirimkan ke Batavia lewat Serang. Berita ini mungkin yang terakhir dikirimkan dari Merak. Isinya laporan kepada Kepala Jawatan Pelabuhan di Betawi, yang menyebutkan bahwa pada hari Minggu tanggal 26 Agustus dan keesokan harinya, sebagian Merak yang lebih rendah letaknya, Pecinan, jalan kereta api, tergenangi; jembatan berlabuh dan teluk tempat pengambilan batu untuk pelabuhan rusak; jembatan dan derek-derek masih di tempat saat itu, tetapi gerbong-gerbong sudah masuk laut.

    Sekitar pukul sembilan pagi Pechler berada di kaki sebuah bukit di luar Merak. Tiba-tiba ia ditimpa hujan lumpur dan badai. Ia melihat gelombang air mendekat, sehingga ia lari tunggang-langgang ke atas sebuah bukit, tapi sebelum ia mencapai puncaknya, ia sudah terkejar air pasang. Apa yang terjadi setelah itu ia tak tahu lagi…

    Keesokan harinya ia baru siuman kembali. Tempat sekitarnya sudah kering, tetapi ia tak dapat mengenali sekelilingnya karena sangat gelap.

    Pada hari Selasa ia baru bisa berjalan kembali ke Merak. Di tengah jalan ia melihat sebuah lokomotif yang rusak parah, sekitar 500 m dari tempat berhentinya. Di Merak ia tidak menemukan apa-apa lagi. Bahkan mayat pun tak dijumpainya… semuanya telah dihanyutkan ke laut. Di antara petugas pemerintah di Merak hanya Pechler dan seorang insinyur bernama Nieuwenhuis yang selamat, karena sedang berpergian ke Batavia. Waktu insinyur itu kembali ke Merak, rumahnya yang dibangun di atas bukit setinggi 14 m hanya
    tinggal lantainya saja.

    *Hujan Deras Batu Apung di Teluk Betung*
    Anyer dilanda gelombang pasang pada Senin pagi, tanggal 27, sekitar pukul sepuluh pagi. Gelombang ini menyapu bersih pemukiman di tepi pantai itu, sehingga yang tinggal hanyalah benteng, penjara, kediaman Patih dan Wedana. Dataran sekitar Anyer, yang di belakang tempat itu lebarnya kurang lebih 1 km seakan-akan dicukur gundul; di dekat pantai bongkahan-bongkahan karang dilemparkan ke darat.

    Caringin yang berpenduduk padat juga hancur luluh; letaknya di dataran yang lebarnya sekitar 1.500 m, disusul oleh bukit-bukit 50m, tempat sejumlah kecil penduduknya menyelamatkan diri.

    Bukan hanya di darat, tetapi di laut lepas Krakatau juga meneror kapal-kapal yang kebetulan berlayar di dekatnya. Penumpang kapal yang melayari Selat Sunda pada hari naas itu tidak dapat melupakan pengalaman dan ketakutan mereka selama hidupnya.

    Kapal api Gouverneur Generaal Loudon, dengan nakhoda Lindeman, sebuah kapal Nederland Indische Stoomvaartsmaatschappij (pendahulu KPM) berlayar dari Batavia ke Padang dan Aceh dengan menyinggahi  Betung, Krui, dan Bengkulu. Kapal itu berangkat pada tanggal 26 Agustus pagi hari dari Jakarta. Seorang penumpang kapal itu mengisahkan pengalamannya sebagai berikut:

    “Cuaca pagi itu sangat cerah. Siang harinya kami berlabuh di Anyer, sebuah pelabuhan kecil di pantai Banten. Beberapa orang pekerja kasar naik dari pelabuhan ini. Kapal kemudian melanjutkan pelayarannya ke arah Teluk Lampung, melewati Pulau Sangiang dan Tanjung Tua. Di sebelah kiri kapal kami lihat Pulau Rakata dari kejauhan, yang kami singgahi dua bulan yang lalu.”

    “Waktu Gunung Krakatau mulai bekerja bulan Mei yang lalu, setelah dua abad beristirahat, perusahaan pemilik kapal Loudon mengadakan suatu tour pariwisata bagi penduduk Batavia. Dengan membayar dua puluh lima gulden kita bisa berlayar ke Pulau Krakatau. Pada waktu itu masih mungkin untuk mendarat ke pulau, bahkan mendaki kawahnya yang mengeluarkan uap putih.”

    “Sekarang gunung berapi itu nampaknya jauh lebih gawat. Asap hitam pekat membubung dari kawahnya ke langit biru dan hujan abu halus turun di geladak kapal…”

    “Pada pukul 7 petang kami berlabuh di Teluk Betung. Hari amat cepat menjadi gelap, sedang lautpun agaknya makin berombak dan hujan abu makin deras. Kapal Loudon memberi isyarat ke darat agar dikirimi sekoci bagi penumpang yang akan mendarat, tetapi tidak ada jawaban apa-apa. Lalu kapten memerintahkan agar sekoci kapal diturunkan, tetapi gelombang besar tak memungkinkan untuk mencapai darat, sehingga sekoci itu harus kembali lagi.”

    “Lampu pelabuhan menyala seperti biasa, tetapi tampaknya ada kejadian-kejadian luar biasa di Teluk Betung. Sekali-sekali terlihat tanda bahaya dari kapal-kapal lain dan terdengar suara kentongan bertalu-talu. Penerangan kota dipadamkan. Sementara itu hujan abu kini berubah menjadi hujan batu apung yang deras…”

    *Menara Suar Patah Seperti Batang Korek Api*
    “Dengan rasa kurang enak kami melewatkan malam itu. Air laut makin liar dan ombak-ombak besar mendera lambung kapal tanpa hentinya. Ketika fajar menyingsing kami melihat bahwa Teluk Betung menderita kerusakan cukup parah oleh gelombang pasang. Kapal api pemerintah Barouw, terlepas dari jangkarnya dan dihempaskan ke darat. Gudang-gudang dan gedung-gedung pelabuhan lain rusak. Tetapi tak tampak tanda-anda kehidupan di kota kecil itu…”

    “Pukul tujuh pagi tiba-tiba kami melihat dinding air melaju ke arah kapal kami. Loudon sempat melakukan manouvre untuk menghindar, sehingga gelombang itu mengenai sejajar dengan sisi kapal. Kapal itu menukik hebat, tetapi pada saat bersamaan gelombang itu telah lewat dan Loudon selamat. Kami sempat melihat betapa air pasang itu mendekati, lalu melanda kota Teluk Betung dengan tenaga tak terbendung…”

    “Tak lama kemudian masih ada tiga gelombang dahsyat yang menghambur, yang di hadapan mata kami memporak-porandakan segala apa yang ada di pantai. Kami melihat bagaimana menara suar patah seperti batang korek api dan rumah-rumah lenyap digilas gelombang. Kapal Barouw terangkat, kemudian dicampakkan ke darat melewati puncak-puncak pohon nyiur. Yang tadinya Teluk Betung kini hanya air belaka…”

    “Di kota itu tentunya ada ribuan orang yang meninggal serentak dan kotanya sendiri seperti dihapuskan dari muka bumi. Semua itu terjadi dengan cepat dan mendadak, sehingga melintas sebelum kita sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Seakan-akan dengan satu gerakan maha kuat dekor latar belakang sebuah sandiwara telah digantikan…”

    “Akhirnya Kapten Lindeman memutuskan untuk meninggalkan teluk itu, karena ia beranggapan bahwa keadaannya cukup berbahaya. Kapal menuju ke Anyer dengan tujuan untuk melaporkan malapetaka yang menimpa Teluk Betung. Tak lama kemudian kapal sudah berlayar di laut lepas. Walaupun hari masih pagi, cuaca makin menggelap, dan menjelang pukul sepuluh sudah gelap seperti malam. Kegelapan itu bertahan selama delapan belas jam dan selama itu turun hujan lumpur yang menutupi geladak sampai hampir setengah meter.”

    “Di ruang kemudi nakhoda melihat bahwa kompas menunjukkan gerakan-gerakan yang paling aneh; di laut terjadi arus-arus kuat, yang selalu berubah arahnya. Udara dicemari oleh gas belerang pekat yang membuat orang sulit bernapas dan beberapa penumpang menderita telinga berdesing. Barometer menunjukkan tekanan udara yang sangat tinggi. Kemudian bertiuplah angin kuat yang berkembang menjadi badai. Kapal diombang-ambingkan oleh getaran laut dan gelombang tinggi. Ada saat-saatnya Loudon terancam akan terbalik oleh
    luapan air yang datang dari samping. Apa saja yang tak terikat kuat dilemparkan ke laut…”

    *Api Santo Elmo*
    “Tujuh kali berturut-turut halilintar menghantam tiang utama. Dengan rentetan letupan yang gemeretak, geledek itu kadang-kadang seperti bergantungan di atas kapal yang diterangi cahaya mengerikan. Alat pemadam kebakaran disiapkan di geladak, sebab nakhoda khawatir setiap waktu Loudon bisa terbakar.”

    “Kecuali halilintar, kami juga menyaksikan gejala alam aneh lain, yakni apa yang disebut sebagai api Santo Elmo. Di atas tiang kapal berkali-kali terlihat nyala api kecil-kecil berwarna biru. Kelasi-kelasi pribumi mendaki tiang untuk memadamkan ‘api’ itu, tetapi sebelum mereka sampai ke atas gejala itu telah lenyap kemudian terlihat berpindah ke tempat lain. Api biru yang berpindah-pindah itu sungguh merupakan pemandangan yang menyeramkan dan membangunkan bulu kuduk.”

    “Antara badai dan ombak besar kami mengalami saat-saat tenang. Tiba-tiba saja semuanya menjadi sunyi senyap dan lautpun licin seperti kaca. Tetapi sepi yang tak wajar ini lebih mencekam daripada gegap gempita ombak dan topan yang harus kami alami. Tak terdengar suara lain, kecuali keluh kesah dan doa para penumpang Indonesia di geladak depan, yang yakin bahwa ajal mereka segera akan sampai.”

    “Akhirnya pada malam menjelang tanggal 28 kami melihat sekelumit cahaya membersit dilangit! Seberkas sinar bulan pucat berhasil menembus awan gelap. Ketika itu sekitar pukul empat pagi. Di kapal orang bersorak-sorai gembira dengan rasa syukur dan lega.”

    “Memang masih ada batu apung dan abu turun ke geladak, tetapi paling tidak kami bisa melihat sekelilingnya dengan agak jelas. Kami masih berlayar menyusuri pantai Sumatra. Nampaknya pantai sangat sunyi. Yang dulunya ditumbuhi pohon-pohon kini hanya tersisa tunggul bekas batangnya yang patah. Laut penuh dengan kayu dan batu apung, yang di pelbagai tempat mengumpul menjadi semacam pulau besar yang menutupi jalan masuk ke Teluk Lampung.”

    “Tampang kapal Loudon benar-benar mengejutkan. Ia lebih mirip kapal yang tenggelam sepuluh tahun di dasar laut dan baru diangkat kembali. Kami melayari Selat Sunda dan pagi-pagi sekali Krakatau nampak kembali. Sekarang kami baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seluruh pulau itu meledak sampai hancur lebur dan sebagian besar hilang. Dinding kawahnya sama sekali runtuh, kami hanya melihat celah-celah raksasa yang mengeluarkan asap dan uap.”

    “Di laut, antara Pulau Sebesi dan Pulau Krakatau yang tadinya masih merupakan jalur pelayaran, kini bermunculan pulau-pulau vulkanik kecil dan berpuluh gosong arang timbul dari permukaan air. Pada delapan tempat tampak asap dikelilingi uap putih dari laut.”

    “Dengan lambat kami mendekati pantai Jawa. Pemandangan yang terlihat hampir tak terperikan. Segalanya telah diratakan menjadi gurun tak bertuan. Waktu kami berlabuh di Teluk Anyer, kami baru menyadari bahwa pelabuhan kecil itu sudah tidak ada lagi. Semuanya telah tersapu bersih, tiada rumah, tiada semak, bahkan tak ada batu yang kelihatan! Hanya sebuah tonggak masih menandai bekas tempat berdirinya mercusuar. Selebihnya tidak ada apa-apa lagi, kehampaan dan kesepian…”

    “Yang dulunya merupakan kampung-kampung yang makmur, kini hanya hamparan lumpur kelabu. Sungai penuh dengan puing dan lumpur. Di mana-mana tak nampak tanda-tanda kehidupan…”

    “Pulau-pulau di Selat Sunda juga tak luput dari musibah. Pulau Sebesi yang pernah dihuni dua ribu orang, kini hanya tinggal seonggok bukit abu, sampai puncaknya yang hampir lima ratus meter tingginya itu, dan semua
    tumbuh-tumbuhan tak berbekas. Tak terlihat perahu atau desa lagi. Demikian pula keadaan pulau-pulau lain, Pulau Sebuku dan Pulau Sangiang.”

    *Hujan Lumpur*
    “Pada tanggal 29 Agustus kami kembali di Lautan Hindia. Makin ke utara, makin kurang kelihatan akibat malapetaka besar itu. Kemudian di Padang dan beberapa tempat lainnya kami bertemu dengan orang-orang yang mendengar ledakan-ledakan dan gemuruh Krakatau. Yang aneh ialah bahwa kami yang berada
    di tempat yang paling dekat dengan Krakatau, tidak mendengar dentuman-dentuman itu…….”

    Itulah kisah seorang penumpang kapal yang melihat malapetaka itu dari jarak jauh. Dari kota Teluk Betung sendiri ada saksi mata yang selamat. Menurut dia gelombang pasang yang pertama tiba tanggal 27 Agustus pagi sekitar pukul setengah tujuh, yang merebahkan lampu pelabuhan, gudang batu bara, gudang di dermaga, dan melemparkan kapal Barouw dari sisi timur bendungan melewati pemecah gelombang sampai ke Kampung Cina. Gudang Garam rusak dan Kampung Kangkung beserta beberapa kampung di pantai lainnya dihanyutkan. Kapal pengangkut garam Marie terguling di teluk, tetapi kemudian dapat tegak kembali. Orang juga melihat kapal Loudon berlabuh, kemudian berlayar lagi pada pukul tujuh.

    Langit berwarna kuning kemerah-merahan seperti tembaga, dari arah Krakatau terlihat kilatan-kilatan api, hujan abu turun tiada hentinya, tetapi sekitar pukul delapan keadaannya tenang. Sementara orang-orang yang sempat mengungsi ke tempat yang tinggi waktu itu masih sempat kembali ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan apa saja yang masih bisa diambil, atau untuk melihat keadaan.

    Kurang lebih pukul sepuluh tiba-tiba terdengar letusan hebat yang membuat orang terpaku. Suatu pancaran cahaya dan kilat terlihat di arah Krakatau. Segera setelah letusan itu hari mulai remang-remang. Kerikil batu apung mulai bertaburan. Menjelang pukul sebelas hari gelap seperti malam, hujan abu berubah menjadi hujan lumpur. Selanjutnya apa yang tepatnya berlangsung, tiada yang tahu, karena yang selamat berlindung di rumah residen dan hanya mendengar deru dan gemuruh sepanjang malam yang disebabkan oleh angin topan yang mematahkan ranting, menumbangkan kayu-kayuan, dan melemparkan lumpur pada kaca-kaca jendela. Para pelarian itu tidak sadar bahwa gelombang pasang sebenarnya sudah mendekati tempat pengungsiannya sejauh 50 m di kaki bukit.

    Baru keesokan harinya orang mengetahui betapa besar kehancuran yang terjadi. Seluruh dataran diratakan dengan tanah, tiada rumah maupun pohon yang masih tegak. Yang ada hanya abu, lumpur, puing, kapal ringsek, dan mayat manusia maupun hewan bertebaran di mana-mana. Kapal Barouw sudah tak terlihat lagi. Baru kemudian kapal yang naas itu ditemukan di lembah Sungai Kuripan, di belakang belokan lembah pada jarak 3.300 m dari tempat berlabuhnya, dan 2.600 m dari Pecinan, tempatnya dicampakkan gelombang pertama pukul setengah tujuh itu. Sejumlah perahu kandas di tepi lembah, sebuah rambu laut ditemukan di lereng bukit pekuburan. Awak kapal Barouw, mualim pertama Amt dan juru mesin Stolk hilang tak ketahuan rimbanya.

    Bagian pantai Sumatra yang terjilat malapetaka Krakatau paling parah, terutama adalah yang letaknya berhadapan dengan Selat Sunda. Misalnya tempat-tempat di tepi Teluk Semangka.

    *Terjepit Dua Rumah*
    Seorang Belanda yang mengalami pribadi kedahsyatan letusan Krakatau dan berhasil mempertahankan hidupnya adalah seorang controleur yang ditempatkan di Beneawang, ibukota afdeling Semangka, yang letaknya di Teluk Semangka, Lampung. PLC. Le Sueur, pejabat Belanda itu, melaporkan kepada atasannya dalam sepucuk surat tertanggal 31 Agustus 1883 sebagai berikut:

    “Pada hari Minggu sore, menjelang pukul empat, sewaktu saya sedang membaca di serambi belakang rumah saya, tiba-tiba saja terdengar beberapa dentuman yang menyerupai letusan meriam. Saya mengira bahwa residen yang menurut rencana akan tiba besok dengan kapal bersenjata pemerintah telah mempercepat jadwal kunjungannya. Saya segera mengumpulkan para kepala adat dan pejabat setempat ke pantai. Tetapi kami tidak melihat ada kapal di laut. Saya segera kembali ke rumah.”

    “Baru saja saya sampai di rumah, seorang pesuruh melaporkan bahwa air laut mulai naik dan beberapa kampung di pantai sudah tergenang. Saya segera berangkat lagi untuk menertibkan keadaan di antara rakyat yang mulai panik dan memanggil-manggil nama Allah. Saya menyuruh mereka membawa wanita dan anak-anak ke tempat-tempat yang letaknya lebih tinggi. Kemudian air surut lagi dengan cepat, tetapi mulai hujan abu.”

    “Sekitar pukul empat pagi saya dibangunkan oleh orang-orang yang memberitakan bahwa di kaki langit terlihat cahaya kemerah-merahan. Saya merasa khawatir…”

    “Pukul enam pagi, hari Senin, saya pergi ke pantai. Permukaan air laut jauh lebih rendah dari biasanya. Sementara batu karang yang biasanya tak nampak, kini menjadi kering. Selanjutnya saya mendengar guruh
    sambung-menyambung, sehingga saya khawatir masih ada hal-hal yang lebih mengerikan yang akan menimpa kami…”

    “Setiba di rumah saya menyuruh memanggil Van Zuylen (pembantu saya) untuk menulis rancangan surat kepada residen tentang apa yang terjadi. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, tetapi cuaca begitu gelap sehingga lampu-lampu masih menyala. Sejurus kemudian kata Van Zuylen: ‘Maaf tuan, untuk sementara saya berhenti menulis saja. Saya merasa gelisah.’”

    “Baru saja ia mengatakan itu, tiba-tiba kami mendengar ribut-ribut. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak berlarian sambil berteriak: ‘Banjir! Banjir!’. Van Zuylen dan saya segera keluar dan menawari orang-orang itu agar berlindung di rumah saya saja, karena rumah saya terletak di tempat yang agak tinggi dan dibangun di atas tiang. Tetapi tak lama kemudian air pasang kembali ke laut sehingga semuanya tenang kembali…”

    “Ketenangan itu tak berlangsung lama: Sejurus kemudian air laut kembali lagi dengan debur dan gemuruh yang menakutkan. Di rumah saya saat itu sudah ada sekitar tiga ratus orang pengungsi. Saya mondar-mandir di antara mereka untuk agak menenangkan mereka. Tiba-tiba saya mendengar serambi depan runtuh dan air segera menerjang ke dalam rumah. Saya menganjurkan mereka untuk pindah ke serambi belakang. Baru saja saya mengatakan itu, tiba-tiba seluruh rumah roboh berantakan dan kami semuanya terseret oleh arus air.”

    “Setelah itu saya tak tahu lagi apa yang terjadi. Saya berhasil meraih sekerat papan dan mengapung mengikuti aliran air, sampai kaki saya tersangkut sesuatu sehingga papan itu harus saya lepaskan. Setelah itu saya berhasil menggapai beberapa keping atap. Saya berpegangan erat-erat sampai air kembali ke laut dan kaki saya menginjak tanah. Saya menggunakan jas saya untuk melindungi kepala dari hujan lumpur.”
    “Di kejauhan saya mendengar suara minta tolong dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak, tetapi saya tak berdaya menolong. Saya tak bisa berdiri karena lemas, takut, dan terkejut, lagi pula tak terlihat apa-apa sebab gelap. Saya mendengar air datang lagi dengan kuatnya. Saya hanya bisa berdoa sejenak memohon penyelamatan nyawa kami semua sambil menyiapkan diri untuk menghadapi maut. Lalu saya dihanyutkan oleh air, diputarkan, lalu dicampakkan dengan kekuatan dahsyat. Saya terjepit di antara dua rumah yang mengapung. Saya tak bisa bernapas lagi rasanya. Saya mengira bahwa ajal saya sudah sampai. Tetapi tiba-tiba kedua rumah itu terpisah lagi. Kemudian Saya mendapat batang pisang yang tak saya lepaskan lagi…”

    “Dengan batang pisang itu saya mengapung beberapa lama, berapa lama tepatnya saya tak tahu lagi. Waktu air surut, saya terduduk saja, barangkali sejam lamanya saya di situ tanpa bergerak. Di sekitar saya masih gelap gulita dan hujan lumpur berlangsung terus.”

    *Kontrolir Berteriak Minta Tolong*
    “Akhirnya Saya mendengar suara-suara manusia di dekat tempat itu. Saya memanggil, bangkit, lalu mulai berjalan tertatih-tatih dengan mata tertutup lumpur sambil meraba-raba jalan saya. Semua pakaian saya, kecuali baju kain flanel, telah tercabikkan dari badan saya. Saya berjalan dalam keadaan kedinginan di bawah hujan lumpur, tetapi tidak berhasil menemukan orang-orang yang saya dengar suaranya itu.”

    “Saya menginjak semak-semak berduri dan kulit saya tercabik oleh duri rotan, sedang saya lebih banyak jatuh bangun daripada berjalan. Akhirnya saya mendengar ada orang berkata dalam bahasa Lampung: ‘Kita tak jauh dari sungai besar.’ Saya mempercepat jalan saya sedapatnya, menyapu lumpur dari mata saya lalu bergegas menuju ke arah suara tadi. Saya bertemu seorang Jawa, seorang Palembang, dan beberapa wanita Jawa.”

    “Tak lama kemudian kami melihat cahaya obor dari jauh. Tanpa berhenti saya berteriak: ‘Tolong! Tolong! Saya kontrolir!’ Tetapi agaknya pembawa obor itu tak mendengar suara saya. Beberapa kali kami melihat cahaya itu, tapi kemudian menghilang di dalam kegelapan. Ketika itu semestinya sudah pukul delapan atau sembilan pagi, tetapi masih gelap gulita…”

    “Akhirnya ada juga seorang pembawa obor yang datang mendapatkan kami. Saya katakan kepadanya siapa saya, lalu ia mengantarkan saya melewati hutan semak berduri dan mengarungi lumpur ke Kampung Kasugihan, kemudian diteruskan ke Penanggungan. Hari sudah pukul delapan malam waktu kami tiba di sana. Di kampung ini saya baru beristirahat sejam ketika kami mendengar gemuruh air, sehingga tempat ini juga masih belum aman. Kami melarikan diri lagi ke arah pegunungan. Setelah dua jam berjalan kami mencapai desa Payung yang terletak di lereng Gunung Tanggamus. Di tempat ini ada yang memberi saya sehelai sarung, sehingga saya berpakaian agak pantas.”

    “Mujur bahwa saya mendapat sambutan baik dari kepala desa maupun rakyatnya, sehingga setiap hari saya bisa makan nasi dengan lauk ayam. Pada hari Selasa saya menyuruh orang untuk menyelidiki siapa-siapa yang masih hidup dari tempat-tempat di pantai. Hasilnya amat menyedihkan. Hampir seluruh Beneawang musnah. Saya perkirakan korban jiwa di daerah ini ada sekitar seribu orang. Banyak kampung lenyap. Di banyak desa terjadi kelaparan.”

    “Mohon dikirim beberapa potong pakaian, sebab saya tak mempunyai apa-apa lagi, juga sepatu dan selop.”

    *Hujan Batu Apung Membara dan Abu Panas*
    Menurut laporan resmi, di Beneawang sekitar 250 orang meninggal, termasuk hampir semua pemuka adat daerah itu yang berkumpul untuk menyambut kedatangan Residen. Termasuk Van Zulyen, klerk griffier pembantu Le Sueur, satu-satunya orang Belanda yang tewas. Kampung-kampung di sebelah barat dan timur Teluk Semangka mengalami penghancuran total atau sebagian; di Tanjungan dan di Tanjung Beringin yang terletak di dekatnya, 327 orang dinyatakan hilang, di Betung yang berdekatan, 244 orang. Dari Ketimbang di pantai Teluk Lampung kita ikuti kisah kontrolir Beyerink yang lebih mengenaskan, karena ia pribadi kehilangan seorang anggota keluarganya dalam malapetaka itu.

    “Pada Minggu sore, tanggal 26 Agustus itu distrik kami ditimpa hujan abu dan batu apung yang membara. Rakyat melarikan diri dalam suasana panik. Abu yang jatuh itu begitu panasnya, sehingga hampir semua orang menderita luka bakar pada muka, tangan, dan kaki. Di antara penduduk yang berjumlah kurang lebih tiga ribu orang yang mengungsi bersama saya ke daerah yang lebih tinggi, paling sedikit ada seribu orang yang meninggal karena luka bakar. Seorang di antara anak saya juga ikut meninggal. Kami terpaksa memakamkannya dalam abu.”

    Antar pukul sembilan dan sepuluh malam air mulai menggenangi rumah kontrolir. Ini merupakan dorongan kuat bagi Beyerink untuk mengajak keluarganya yang terdiri atas istrinya dan kedua anaknya yang masih
    kecil memgungsi ke Kampung Umbul Balak di lereng Gunung Rajabasa. Semalam-malaman turun hujan kerikil dan abu, hari Minggunya sampai pukul sebelas hujan deras, paginya antara pukul sembilan dan sepuluh jatuh kepingan-kepingan batu apung, ada yang sebesar kepala. Ledakan-ledakan sudah terdengar terus-menerus sejak hari Minggu dan sejak hari Senin tercium bau belerang. Gelegar letusan terhebat terdengar sekitar pukul sepuluh, disusul segera oleh kegelapan total. Tak lama kemudian mulai turun abu panas, yang
    rasanya sangat nyeri saat mengenai kulit. Ini berlangsung kira-kira seperempat jam, mungkin lebih lama, disertai uap belerang yang menyesakkan napas.

    Sesudah itu turun hujan lumpur, yang melekat pada tubuh seperti lem, tetapi lebih mending daripada abu panas yang mengakibatkan luka-luka bakar. Lumpur dan abu silih berganti berjatuhan semalam suntuk, mungkin juga sampai Selasa pagi.

    Selama lima hari Beyerink dengan keluarganya menderita di bawah tempat berteduh yang sederhana, dikelilingi sejumlah besar rakyat yang ikut melarikan diri ke tempat itu. Mereka semuanya sangat menderita,
    terutama oleh luka-luka bakar yang tak diobati. Anak terkecil keluarga Beyerink akhirnya meninggal karena luka-lukanya dan keadaan yang menyedihkan itu.

    Akhirnya mereka dibebaskan oleh kapal bargas Kedirie yang pada Sabtu pagi, tanggal 31 Agustus membuang sauh di Teluk Kalianda. Nakhoda kapal beserta beberapa anak buahnya melakukan peninjauan ke darat. Mereka mendengar bahwa kontrolir dan keluarganya mengungsi di Umbul Balak. Mereka bergegas
    menjemputnya. Dengan bantuan tandu keluarga yang malang itu akhirnya dapat dibawa ke pantai dan hari itu juga Kedirie bertolak ke Jakarta.

    *Tersangkut Di Pohon*
    Kapal bargas Kedirie menyelamatkan sejumlah korban, di antaranya seorang kakek yang berumur sekitar enam puluh tahun, bernama Kimas Gemilang, yang kemudian dirawat di rumah sakit umum di Jakarta. Dalam sebuah wawancara dengan harian berbahasa Belanda ia mengisahkan pengalamannya sebagai berikut:

    “Pada hari Senin pagi, sekitar pukul enam, saya menuju ke pantai, tak jauh dari rumah saya di Ketimbang. Saya melihat permukaan air laut sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada sehari-hari, tetapi saya tidak melihat
    gelombang atau hal lain yang mencurigakan. Sekitar sepuluh menit kemudian, saya melihat air menggulung dari kejauhan, warnanya hitam dan tingginya menyerupai gunung. Saya hendak melarikan diri, tetapi sudah tak keburu sebab air telah mencapai saya, sehingga saya terseret.

    Mujurnya, saya tersangkut pada batang pohon besar. Saya memanjat pohon itu sampai ke puncaknya. Tak lama sesudah itu air menghilang sama cepatnya seperti tibanya tadi. Setelah lewat lima menit gelombang pasang itu datang kembali. Saya tetap bertengger di pohon, tak berani turun. Sesudah lewat sekitar satu jam air pasang tak kembali lagi, barulah saya perlahan-lahan merosot ke bawah. Tetapi saya tak mampu berjalan karena cedera akibat hempasan gelombang tadi. Jadi saya duduk dan rebah di bawah pohon penyelamat itu beberapa hari dan beberapa malam dalam keadaan antara sadar dan tidak, seperti terbius, tanpa mengetahui apa yang terjadi di sekeliling saya.

    Tentu saja selama beberapa hari itu saya tidak makan dan minum sampai suatu pagi, saya sudah tak tahu lagi hari apa, ada seorang Cina menghampiri saya, lalu mengangkat saya ke perahunya. Di tengah laut kami ditolong oleh sebuah kapal api yang membawa saya kemari.”

    Demikianlah kisah beberapa saksi mata yang mengalami secara pribadi malapetaka Krakatau itu. Para pengamat waktu itu setelah mengumpulkan data yang diperoleh, menyimpulkan bahwa letusan Krakatau bulan Agustus 1883 itu tidak disertai atau didahului oleh gempa kuat. Di beberapa tempat memang terasa guncangan ringan.

    *Bulan dan Matahari Berwarna-Warni*
    Yang meminta korban jiwa maupun kerusakan paling berat adalah air pasang yang melanda pantai-pantai yang berbatasan dengan Selat Sunda dan utara Pulau Jawa. Hanya sebagian kecil korban diakibatkan oleh abu panas, sedang awan panas dan gas beracun tak tercatat. Dari laporan-laporan ternyata bahwa gelombang pasang itu terjadi tiga kali, yang pertama pada hari Minggu pukul 18.00, pada hari Senin sekitar pukul 06.30, dan pukul 10.30. Gelombang yang terakhir adalah yang terbesar, yang menyebabkan kerusakan paling banyak. Penghancuran Teluk Betung dan Caringin terutama diakibatkan oleh gelombang yang terakhir itu.

    Setelah aktif selama 121 hari sejak bulan Mei dan puncak ledakan tanggal 28 Agustus itu akhirnya semuanya menjadi tenang kembali. Krakatau lenyap seperti ditelan bumi; hampir seluruh belahan utara pulau itu hilang. Yang tinggal hanya bebatuan sepanjang 813 meter. Gunung berapi Danan dan Perbuatan juga gaib, dan di tempat itu terbentuk kaldera raksasa yang berdiameter 7,4 km.

    Abu halus yang dilontarkan ke angkasa ditiup ke arah barat oleh angin dan keliling dunia dengan kecepatan 121 km tiap jamnya. Setelah enam minggu, dalam bulan Oktober 1883 suatu sabuk debu dan abu halus menyebar sekitar bumi. Hanya dua hari setelah letusan abu halus itu sudah meliputi benua Afrika dan lima belas hari kemudian telah mengitari bumi, mengkibatkan suatu kabut di seluruh daerah khatulistiwa yang menyebar sedikit demi sedikit. Pada tanggal 30 Nopember kabut itu mencapai Eslandia. Kabut itu menyebabkan pelbagai dampak optik, termasuk senja kala yang gilang-gemilang, matahari dan bulan berwarna, dan munculnya corona. Di banyak tempat di dunia terlihat matahari atau bulan berwarna merah jambu, hijau, biru. Enam bulan setelah letusan Krakatau, penduduk Missouri di Amerika Serikat melihat matahari kuning dengan latar belakang langit hijau.

    Sebuah majalah populer Belanda memberi judul karangan tentang letusan Krakatau “Lebih hebat dari bom atom.” Ledakan bom atom bukan apa-apa dibandingkan dengan letusan Krakatau. Bom atom pertama yang diledakkan sebagai percobaan di dekat Los Alamos pada tanggal 16 Juni 1945 memancarkan energi sebesar 0,019 Megaton, sedangkan ledakan Krakatau diperkirakan sebesar 410 megaton!

    Kekuatan letusan itu setara dengan 21.428 bom atom. Sedangkan korban jiwa yang direnggutnya oleh gelombang pasang merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat sampai hari ini. Ini belum terhitung korban tidak langsung yang meninggal oleh penyakit dan kelaparan yang terjadi kemudian.***
    READ MORE - Lebih hebat dari Bom Atom