Ketika menyebut daftar tamu kehormatan, misalnya. Kiemas tidak menyebut mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Presiden B.J. Habibie. Dia melewatkan dua tamu kehormatan yang hadir dalam ruang sidang paripurna MPR itu.
Mohon maaf, terlewat. Yang terhormat Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Presiden Ketiga Indonesia B.J. Habibie, katanya dengan agak terbata-bata sambil membolak-balik teks yang ada di depannya. SBY tetap tenang dan belum bereaksi. Habibie yang duduk di balkon atas hanya tersenyum simpul seperti memaafkan kesalahan kecil Kiemas itu. Begitu pula JK.
Tapi, kesalahan itu hanya pembukaan. Setelah lupa menyebut dua tokoh itu, Kiemas bolak-balik membuat kesalahan. Ketika menyebut pemimpin dan utusan negara sahabat, dengan gagap dan patah-patah Kiemas menyebut mereka satu per satu. Saat menyebut perwakilan pemerintah Srilanka, huruf W dia baca, W double. Perwakilan pemerintah Srilanka pun berdiri dengan wajah merengut.
Sejumlah pemimpin negara sahabat memang hadir. Antara lain Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak, Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos Horta, dan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah.
Nah, di sinilah Presiden SBY mulai merasa tidak nyaman. Duduk di kursi sisi selatan dari Kiemas, alis berkernyit. Pandangannya tak bisa menatap lurus ke hadirin karena bolak-balik menoleh kepada Kiemas yang tak juga tepat membaca nama-nama perwakilan negara sahabat itu.
Pelafalan Kiemas pada gelar dan kata sapaan pun tak terlalu bagus. Kiemas menyebut mister dengan gaya Jawa menjadi mester dan doktor menjadi dokter. Saat memanggil SBY untuk menandatangani berita acara pelantikan, ayah Puan Maharani itu keseleo lidah. Susilo dokter Bambang Yudhoyono, katanya. SBY kembali menoleh kepada Kiemas.
Kesalahan berkali-kali itu mulai dihapal oleh sejumlah peserta sidang. Sejumlah menteri seperti Mendagri Mardiyanto, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dan beberapa menteri lainnya terlihat saling bisik kemudian tertawa. Mereka seperti menunggu Kiemas untuk berbuat salah lagi. Dan memang, Kiemas melakukannya lagi!
Ketika membaca sambutan setelah penandatanganan berita acara pelantikan, Kiemas menyampaikan sambutannya. Dia menyebutkan presiden dan wakil presiden Indonesia selanjutnya adalah SBY dan Boediono.
Namun, kembali saat menyebut SBY, dia bilang, Susilo dokter Bambang Yudhoyono. Tapi, kalimat belum selesai. Kiemas terhenti selama beberapa detik sambil membolak-balik kertas kemudian berkata, Selama lima tahun.. Terhenti lama, dia kemudian menyebut, Dan Profesor Boediono sebagai wakil presiden...selama lima tahun.
Pertunjukan berikutnya lebih fatal lagi. Dalam pidato penutup sidang tersebut, tiba-tiba saja Kiemas berkata seperti hendak mengakhiri sidang, Demikian...,(diam). Rupanya halaman teks yang dibalik politisi bertubuh subur itu terlalu banyak. Satu halaman terselip.
Ee.., kepada bapak Muhammad Jusuf Kalla, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas segala yang telah dilakukan selama ini, tuturnya. Kali ini, suara gemuruh tawa yang tertahan mulai terdengar di dalam gedung.
Dikonfirmasi seusai sidang paripurna, Kiemas menjelaskan bahwa dirinya tidak terbiasa menyebut nama lengkap Presiden SBY beserta titelnya. Menyebut nama asli agak-agak susah. Biasanya kan Pak SBY, katanya.
Suami Megawati itu merasa kesalahan yang dilakukannya sangat manusiawi. Termasuk saat kebablasan membuka halaman, sehingga nama penting, seperti Jusuf Kalla sampai terlewatkan.
Manusiawi lah. Nomor halamannya kecil di bawah, kata Kiemas yang mengaku sebelumnya sudah sempat latihan membaca teks pidato tersebut.
Sekretaris FPDIP di MPR Ganjar Pranowo mengatakan mereka sebenarnya sudah meminta Sekjen MPR agar tidak terlalu banyak pidato panjang. Sebab, sidang paripurna tersebut hanya seremoni pelantikan saja. Karena orang baru yang juga baru sekali dua kali memimpin jangan-jangan masih grogi, candanya.
Ganjar mengakui, ke depan, memang tidak boleh sampai terjadi lagi banyak kesalahan seperti itu. Tapi, sejauh ini, dia meyakini, peristiwa salah baca tersebut tidak sampai mengurangi kewibawaan MPR.
Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) Anas Urbaningrum menyindir penampilan buruk Taufik Kiemas itu. Dia mengatakan, Kiemas mungkin ingin memberi kesan khusus dalam sidang paripurna pelantikan SBY -Boediono.
Suasana lebih cair, sedikit lebih santai. Ada kesempatan untuk senyum dan ketawa kecil. Jadi, menyegarkan, kata Anas.
Komentar yang lebih pedas datang dari Wakil Ketua DPD Laode Ida. Menurut dia, kekeliruan yang dilakukan secara berulang oleh Taufik Kiemas itu telah membuat kewibawaan MPR menjadi berkurang. Kesakralan pelantikan presiden dan wapres semakin rendah, ujar senator dari Sulawesi Tenggara itu.
Sementara itu, kesalahan yang terjadi dalam sidang paripurna pelantikan presiden menunjukkan kurangnya persiapan dari MPR. Aktivis Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma) Said Salahuddin menyatakan, sidang paripurna tersebu disaksikan dunia internasional. Hal itu bisa memberikan catatan negatif kepada yang melihatnya.
Dunia akan menganggap Indonesia tidak cakap dalam mengelola sebuah sidang, kata Said. Seharusnya MPR bisa melakukan persiapan matang. Sebab, sejumlah kepala negara juga ikut hadir di pelantikan itu.
Said mencatat, kesalahan-kesalahan kecil yang cukup mengganggu adalah penyampaian pidato Ketua MPR, Taufiq Kiemas. Politisi PDIP itu pada DPR periode sebelumnya dikenal sebagai anggota DPR yang kerap membolos.
Ketua MPR salah mengucapkan nama Susilo Bambang Yudhoyono dan terlihat kurang tepat menyebut nama kepala negara lain, ujarnya.
Ironisnya, kata Said, kesalahan kecil itu malah ditanggapi dengan riuh rendah suara anggota MPR lainnya. Terdengar dari siaran TV bahwa para anggota MPR terkesan berbicara sendiri, mengomentari kesalahan Taufiq.
Itu menunjukkan lemahnya kita saat mengelola sebuah sidang, kata Said. Seharusnya, kata dia, sidang harus dipersiapkan dengan baik, termasuk pemahaman tata tertib yang harus dipatuhi peserta sidang.
Mengenai kesalahan penyebutan nama oleh Taufiq, Said menilai, hal itu menunjukkan bahwa politikus tua harus diganti secara bertahap oleh politikus muda. Kesalahan itu masih terjadi, padahal Ketua MPR memegang teks, bagaimana jika berbicara tanpa teks di sebuah forum internasional, tandasnya.
Mega Tak Hadir
Terjawab sudah teka-teki soal hadir ataupun tidaknya Megawati Soekarnoputri dalam pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono pada rapat paripurna MPR, Selasa (20/10). Meski Ketua MPRRI Taufiq Kiemas yang juga suami Megawati sudah mengudang mantan presiden RI itu hadir, namun putri proklamator itu tetap memilih untuk tidak hadir.
Padahal, para mantan Presiden dan wakil Presiden diundang semuanya. Mantan presiden RI BJ Habibie yang kini lebih banyak bermukim di Jerman, hadir di acara pelantikan dengan istrinya. Demikian pula dengan mantan wapres Try Sutrisno yang hadir dengan istrinya.
Sedangkan Gus Dur tidak hadir lantaran harus menjalani perwwatan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangungkusomo. Tidak ada kepastian soal penyebab ketidakhadiran Megawati. Dua orang terdekat Megawati memberikan keterangan yang berbeda. Suami Megawati, Taufiq Kiemas, mengatakan bahwa istrinya sedang berada di Bogor saat pelantikan berlangsung. “Ibu saat ini sedang di Bogor,” ujar Taufiq kepada wartawan di gedung MPR RI, kemarin.
Taufiq sepertinya juga agak kurang berkenan dengan pertanyaan soal ketidakhadiran Megawati.
Sedangkan Puan Maharani, putri pasangan Taufiq Kiemas dan Megawati, mengungkapkan bahwa ibunya terpaksa tidak bisa hadir lantaran kurang sehat. Jika ayahnya menyebut Megawati tengah berada di Bogor, Puan justru mengatakan bahwa ibunya ada di Jakarta. “Ibu Mega masih kurang sehat sehingga tidak bisa menghadiri pelantikan presiden dan wakil presiden,” ujar Puan.
Namun ketidakhadiran Megawati mendapat pembelaan dari Sekjen DPP PDIP, Pramono Anung. Menurutnya, tidak ada aturan yang mengharuskan kehadiran Megawati pada pelantikan SBY-Boediono.
Menurut wakil ketua DPR itu, kebiasaan untuk menghadirkan mantan presiden dan wakil presiden pada pelantikan pasangan presiden terpilih hanya merupakan seremonial saja. “Tidak ada kewajiban untuk hadir. Tapi, Ibu Mega sudah menyampaikan pesan kepada presiden terpilih lewat saya dan Pak Taufiq Kiemas,” terangnya tanpa menyebut isi pesannya.
Sementara itu ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menegaskan bahwa pihaknya sebenarnya berharap agar Megawati bisa hadir. “Dari awal memang kami sangat berharap agar Ibu Mega hadir dalam pelantikan presiden dan wakil presiden SBY-Boediono. Kenyataannya Ibu Mega tidak hadir,” ujar Anas.
Namun mantan anggota KPU yang kini menjadi anggota DPR dari Partai Demokrat itu mengatakan, ketidakhadiran Megawati bukanlah masalah besar. Bahkan Anas memaklumi ketidakhadiran itu.
“Kami juga harus memaklumi bahwa Presiden SBY dan Ibu Mega mempunyai kesibukan tersendiri. Kami yakin, kenyataan ini tidak akan mengganggu hubungan baik Demokrat dengan PDIP, tandasnya.
Dijelaskan Anas pula, hubungan PD dan PDIP yang akhir-akhir ini mengalami perkembangan positif tidak akan terganggu. Terlebih lagi, hubungan Fraksi PDIP dan Demokrat di parlemen juga baik-baik saja.
READ MORE - Keanehan Saat Pelantikan SBY